Senin, 07 April 2025

DARI SILATURAHMI KE SILATURILMIYAH: LEBARAN, RELASI, DAN RENUNGAN PENELITI-PENGABDI

 DARI SILATURAHMI KE SILATURILMIYAH:

LEBARAN, RELASI, DAN RENUNGAN PENELITI-PENGABDI


Setiap kali pulang lebaran ke kampung halaman, ada satu momen yang tak pernah gagal mengetuk kesadaran saya. Saat duduk di beranda rumah orang tua, ditemani suara takbir dari surau kecil di tengah gang kampung dan masjid-masjid sekitar, saya sering terdiam lama dan merenung. Bukan karena lelah perjalanan, tapi karena ada sesuatu yang lebih dalam yang hadir dalam diri, yakni "rasa pulang".

Bagi saya, pulang tidak hanya sekedar ritual kembali ke rumah, tetapi juga ruang batin tempat kita mengeja ulang makna dari apa yang selama ini kita jalani. Termasuk pekerjaan yang setiap hari  saya jalani, baik sebagai Kepala Pusat Penelitian di LP2M, maupun sebagai peneliti sekaligus dosen.

Lebaran selalu membawa kita kembali pada akar, yakni: rumah, keluarga, dan kenangan. Namun, bagi kami para peneliti, lebaran juga mengingatkan pada makna kembali dalam dimensi yang lebih luas, yakni kembali pada niat awal, pada pertanyaan-pertanyaan dasar, pada relasi-relasi yang selama ini menopang kerja intelektual kita.

Pada momen lebaran, di antara obrolan hangat bersama tetangga, sapaan akrab dari para sepupu, hingga senyum malu-malu anak kecil yang saya temui di jalan kampung, membawa saya pada sebuah kesadaran bahawa sejatinya riset dan pengabdian tidak hanya tentang jurnal, angka sitasi, atau proposal hibah penelitian dan pengabdian. Tetapi tentang manusia. Tentang bagaimana ilmu bisa menjadi jembatan—bukan tembok—bagi mereka yang mungkin tak pernah duduk di ruang seminar atau membaca paper akademik.

Jika dikaitkan dengan momen lebaran, riset dan pengabdian sejatinya bukan hanya produk akademik, melainkan jalinan silaturahmi pengetahuan dengan masyarakat, dengan sumber-sumber kebijaksanaan, dan dengan sesama peneliti lintas disiplin. Riset lahir dari kegelisahan, tumbuh dari kolaborasi, dan bermuara pada kemaslahatan dengan menjadikan hasil riset sebagai basis pengabdian.

Seperti halnya lebaran yang meneguhkan kembali relasi sosial dan emosional, penelitian pun perlu senantiasa ditopang oleh etika keterhubungan, seperti: empati pada subjek penelitian, keterbukaan dalam dialog metodologis, serta tanggung jawab sosial terhadap dampak dari hasil riset kita.

Pada momen lebaran ini, saya belajar lagi bahwa kerja penelitian dan pengabdian sejatinya adalah kerja silaturahmi. Menghubungkan gagasan dengan kebutuhan masyarakat. Mengurai masalah dengan empati. Dan menghadirkan ilmu yang membumi, yang bisa dirasakan manfaatnya di ruang-ruang paling sederhana, seperti: di surau, di toko, di lumbung, di ruang tamu rumah-rumah kecil yang penuh harapan.

Lebaran membuat saya sadar, bahwa penelitian dan pengabdian bukan hanya semata urusan institusi, tetapi urusan hati dan relasi. Hasil penelitian dan pengabdian harus berpulang kepada masyarakat—kepada suara-suara kecil yang kerap tak terdengar di ruang akademik. Di sanalah tempat sejati ilmu menemukan wajahnya yang paling manusiawi.

Lebaran mengajarkan kepada saya bahwa sejatinya pulang adalah bagian penting dari perjalanan intelektual. Tanpa pulang, kita mungkin lupa untuk apa dan untuk siapa ilmu ini diperjuangkan.

Di tengah suasana lebaran yang hangat ini, saya mengajak rekan-rekan peneliti dan pengabdi untuk merayakan lebaran, yang tidak hanya sebagai kemenangan spiritual, tapi juga sebagai momen memperbarui komitmen kita terhadap kebermanfaatan ilmu. Mungkin inilah saatnya kita bertanya, "kepada siapa ilmu ini kita tujukan? Sudahkah hasilnya menjangkau mereka yang terpinggirkan? Sudahkah hasil riset dan pengabdian kita menjadi jembatan, bukan sekedar menara gading?"

Mari, jadikan pulang tidak hanya sekedar tradisi tahunan yang tanpa makna, tapi juga kesadaran epistemik—bahwa kita perlu terus kembali, menyapa realitas, dan menyulam pengetahuan dari denyut kehidupan yang nyata. Semoga silaturahmi kita menjadi silaturilmiyah yang berkelanjutan, dari desa ke kampus, dari masyarakat ke manuskrip, dari suara-suara kecil ke kebijakan besar.


Selamat Idulfitri 1446 H
Taqabbalallahu minna wa minkum


Salam Hangat,

Lailatuzz Zuhriyah

Kepala Pusat Penelitian LP2M UIN SATU Tulungagung
Sekretaris Forum Kapuslit PTKIN



Rabu, 27 November 2024

TELAAH FILOSOFIS-TEOLOGIS LAGU "LANGGENG DAYANING RASA" KARYA DENNY CAK NAN



Bagi saya, lagu "Langgeng Dayaning Rasa" karya Denny Cak Nan mengandung makna mendalam yang membuka ruang interpretasi, tidak hanya dari sisi romantis tetapi juga dari perspektif filosofis-teologis. Secara filosofis, lagu ini menggambarkan rasa rindu sebagai fenomena eksistensial yang tidak hanya mengacu pada hubungan antar-manusia tetapi juga pada hubungan transendental dengan Tuhan.

Dalam pandangan filsafat eksistensialis, manusia adalah makhluk yang selalu mencari makna. Perasaan rindu yang digambarkan dalam lagu ini bisa diartikan sebagai pencarian akan sesuatu yang absolut, yakni Tuhan. Rindu adalah "kehendak untuk yang kekal," seperti diungkapkan oleh Søren Kierkegaard yang menyebut bahwa rindu adalah panggilan terdalam jiwa kepada Pencipta.

Sementara itu, dalam perspektif budaya Jawa, rasa sering kali dihubungkan dengan manunggaling kawula lan Gusti (kesatuan hamba dengan Tuhan). Lagu ini mencerminkan kerinduan batin untuk mendekat kepada Sang Sumber Segala Cinta.

Dari sisi teologis, lagu ini bisa dipahami sebagai pengakuan akan keberadaan Tuhan sebagai yang paling memahami manusia. Ada 2 nilai yang terkandung, yakni teologi kasih dan kerinduan Ilahi. 

Dalam Teologi Kasih, Tuhan digambarkan sebagai yang memahami segala rasa, termasuk rindu. Dalam banyak tradisi agama, rindu kepada Tuhan adalah bentuk tertinggi dari ibadah. Lagu ini menggambarkan bahwa hanya Tuhan yang mampu memahami kedalaman hati manusia, sebagaimana dalam tradisi Islam disebutkan, "Allah lebih dekat daripada urat nadi" (QS. Qaf:16).

Sementara itu, nilai kerinduan Ilahi nampak dalam tradisi sufisme, konsep kerinduan kepada Tuhan (syauq) menjadi inti dari perjalanan spiritual. Lagu ini seakan-akan menempatkan kerinduan sebagai medium untuk menyatu dengan Tuhan. Liriknya mencerminkan kesadaran manusia tentang ketidakmampuannya menemukan kedamaian sejati kecuali dalam Tuhan.

Frasa langgeng dayaning rasa mengandung filosofi mendalam. kata "Langgeng" mengacu pada sesuatu yang kekal, melampaui dunia material. Kekekalan ini bisa dilihat sebagai kerinduan kepada Tuhan, yang dalam teologi adalah Yang Maha Kekal (Al-Baqa').

Sementara itu, istilah "Dayaning Rasa" merujuk pada kekuatan batin yang menjadi jalan manusia untuk mencapai maqam spiritual. Dalam filsafat Islam, rasa adalah instrumen penting dalam ma'rifatullah (pengenalan kepada Tuhan). Lagu ini mengajarkan bahwa rasa, bila diselaraskan dengan kehendak Tuhan, akan menjadi kekuatan yang mendekatkan manusia kepada-Nya.

Lagu ini mengekpresikan kerinduan yang Transenden dalam hubungan antara makhluk dan Khaliknya. Dalam hal ini, cinta sebagai medium Ketuhanan. Jalaluddin Rumi menggambarkan cinta sebagai jembatan antara makhluk dengan Sang Khalik. Lagu ini menggambarkan bahwa cinta sejati yang hakiki hanyalah kepada Tuhan, karena hanya Dia yang benar-benar memahami dan menerima manusia apa adanya.

Lagu ini juga mengekspresikan Tuhan sebagai pelipur lara. Liriknya menegaskan bahwa hanya Tuhan yang benar-benar memahami luka, kebahagiaan, dan kerinduan manusia. Pengakuan ini menjadi bentuk teologi pengharapan (hope theology), yakni manusia mempercayakan dirinya kepada Tuhan yang Maha Mengetahui.

Lagu ini nampaknya juga menunjukkan adanya harmoni antara budaya Jawa yang kaya dengan unsur mistisisme dan spiritualitas Islam. Dalam Kejawen, perasaan rindu sering kali dikaitkan dengan perjalanan menuju harmoni batin dan hubungan langsung dengan Tuhan. Lagu ini mencerminkan filsafat sangkan paraning dumadi (kembali kepada asal mula penciptaan). Sementara itu, aspek teologisnya bisa dikaitkan dengan tawakkal (kepasrahan) dan ikhlas (ketulusan), di mana manusia menyerahkan segala rasa kepada Tuhan.

Lagu ini mengingatkan pendengarnya untuk merefleksikan hubungan mereka dengan Tuhan melalui medium rasa. Secara praktis, lagu ini bisa menjadi sarana kontemplasi, mengingatkan bahwa cinta duniawi hanyalah bayangan cinta ilahi. Dalam perspektif ini, rindu menjadi sarana introspeksi, mengarahkan manusia kepada makna hakiki kehidupan. Lagu ini juga mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah satu-satunya tujuan akhir, di mana segala rasa menemukan kedamaian.

Dari telaah filosofis-teologis di atas, pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa "Langgeng Dayaning Rasa" melampaui sekedar lagu cinta. Dengan penafsiran filosofis-teologis, lagu ini menjadi refleksi tentang rindu manusia kepada Tuhan, yang menggambarkan hubungan mendalam antara makhluk dan Khalik. Lagu ini mengajarkan bahwa Tuhan adalah tempat kembali segala rasa, dan hanya Dia yang memahami manusia secara sempurna. Dengan demikian, karya Denny Cak Nan ini tidak hanya indah secara estetis tetapi juga kaya akan makna spiritual dan filosofis. (LZ)

Selasa, 26 November 2024

 

TELAAH ATAS SHALAWAT ILAHI TAMMIMI: DARI DIMENSI TEOLOGIS, ETIS, EKSISTENSIAL, HINGGA KOSMOLOGIS



Shalawat "Ilahi tammimmin na'ma 'alaina" secara harfiah berarti "Ya Allah, sempurnakan nikmat-Mu atas kami!" Secara filosofis, frasa ini memiliki makna mendalam dalam konteks spiritualitas Islam, meliputi dimensi teologis, etis, eksistensial, dan kosmologis.

DIMENSI TEOLOGIS

1. Pengakuan terhadap ke-Maha-an Allah

Ucapan ini menegaskan keyakinan bahwa segala nikmat berasal dari Allah sebagai sumber absolut dari segala kebaikan. Dalam teologi Islam, nikmat Allah meliputi aspek material dan spiritual, seperti iman, kesehatan, ilmu, dan ketenangan jiwa.

2. Doa untuk kesempurnaan nikmat: Permohonan agar nikmat yang telah diberikan Allah disempurnakan mencerminkan pengharapan manusia akan rahmat Allah yang terus berlanjut. Ini juga menunjukkan sikap tawakal dan percaya bahwa kesempurnaan hanya dapat dicapai dengan kehendak-Nya.

DIMENSI ETIS

1. Kesadaran akan karunia
Shalawat ini mengajarkan rasa syukur yang mendalam terhadap nikmat yang telah diberikan. Dalam tradisi Islam, syukur adalah nilai moral yang utama, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'an: "Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu" (QS. Ibrahim: 7).

2. Tanggung jawab moral
Dengan meminta kesempurnaan nikmat, implikasinya adalah individu juga bertanggung jawab menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan, sesuai dengan prinsip amanah dalam Islam.

DIMENSI EKSISTENSIAL

1. Pencarian kesempurnaan hidup
Shalawat ini mencerminkan kesadaran manusia akan ketidaksempurnaannya dan keinginannya untuk terus berusaha menuju kondisi ideal dalam hidup. Hal ini sejalan dengan pandangan filsafat Islam yang menekankan tahdzib an-nafs (penyucian jiwa) dan kamal insani (kesempurnaan manusiawi).

2. Relasi dengan transendensi
Permohonan ini menunjukkan bahwa manusia tidak bisa mencapai kesempurnaan tanpa hubungan dengan yang transenden, yaitu Allah. Dalam filsafat tasawuf, ini disebut sebagai fana' fi Allah (melebur dalam kehendak Allah) sebagai bentuk pengakuan ketergantungan total kepada-Nya.

DIMENSI KOSMOLOGIS

Harmoni dengan alam semesta
Permohonan kesempurnaan nikmat juga dapat diartikan sebagai doa agar manusia hidup selaras dengan tatanan ilahi di alam semesta (tanzim ilahi). Nikmat Allah bukan hanya untuk individu, tetapi juga terkait dengan keseimbangan makro kosmos yang mencakup kehidupan sosial, ekosistem, dan keberlanjutan dunia.

Shalawat ini, meskipun sederhana dalam susunan kata, namun membawa makna filosofis yang mendalam, yakni sebuah pengakuan akan keagungan Allah, kesadaran etis terhadap nikmat, dan pencarian eksistensial untuk mencapai kesempurnaan hidup dalam harmoni dengan kehendak Ilahi. Bagi seorang Muslim, mengucapkan shalawat ini adalah refleksi atas hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan manusia dan alam), sekaligus ekspresi pengabdian total kepada-Nya.

Minggu, 24 November 2024

LAMPUNG DALAM BINGKAI MUSEUM: REFLEKSI BUDAYA DAN KEHIDUPAN


Halaman Utama Museum Lampung


Hari itu, 20 November 2024, udara Bandar Lampung terasa hangat dengan semilir angin pagi yang membawa semangat baru. Tujuan perjalanan saya adalah Museum Lampung, sebuah tempat yang tak hanya menjadi pusat dokumentasi sejarah, tetapi juga ruang untuk merefleksikan nilai-nilai budaya dan kehidupan masyarakat Lampung. Museum ini juga dikenal sebagai Museum Ruwa Jurai. Sebuah museum yang menjadi titik temu antara masa lalu dan masa kini, memperlihatkan betapa kaya dan dalamnya identitas budaya Lampung.

Begitu tiba di halaman museum, saya langsung terpesona oleh arsitektur bangunannya. Atap museum yang terinspirasi dari bentuk rumah adat Nuwo Sesat, dihiasi ornamen tradisional, memancarkan kesan otentik yang kuat. Halaman yang luas dan rindang membuat suasana menjadi nyaman, seolah mempersiapkan pengunjung untuk perjalanan waktu ke masa lalu.

Museum Lampung buka setiap hari , dengan jam operasional dari pukul 08.00 hingga 14.00 WIB. Adapun harga tiket masuk museum yaitu sebesar Rp5.000 untuk dewasa, Rp1.000 untuk anak-anak, dan Rp2.000 untuk mahasiswa. Cara masuknya pun sederhana, cukup membeli tiket di loket depan dan menyerahkan tiket kepada petugas di pintu masuk. Saat mulai memasuki pintu utama museum, saya disambut ramah oleh petugas museum. Mereka mengarahkan untuk mendaftar dan membeli tiket terlebih dahulu, kemudian memberikan buku kecil yang berisi peta sederhana yang menunjukkan tata letak ruang pameran dan koleksi. Panduan ini memudahkan saya untuk menjelajahi museum dengan alur cerita yang teratur.

Kain Tapis: Menyibak Kekayaan Tradisi


Kain Tapis Lampung

Ruang pertama yang saya masuki adalah pameran kain Tapis, kain tradisional kebanggaan Lampung. Saya terpukau dengan keindahan kain yang penuh dengan benang emas, melambangkan status sosial dan spiritual masyarakat Lampung. Proses pembuatan Tapis bukan sekedar keterampilan, melainkan juga bentuk meditasi—proses panjangnya mencerminkan kesabaran dan dedikasi perempuan Lampung.


Selain Tapis, terdapat juga pakaian adat lengkap dengan aksesorisnya. Setiap elemen pakaian memiliki simbolisme, seperti mahkota yang melambangkan kebijaksanaan dan ornamen emas sebagai lambang kemakmuran. Melihat koleksi ini membuat saya merenungkan betapa eratnya hubungan masyarakat Lampung dengan nilai-nilai spiritual dan estetika.

Ruang Kehidupan: Mengenal Sejarah Lampau


Beberapa artefak yang terpampang di ruang koleksi

Di ruang lain, saya menemukan koleksi artefak prasejarah seperti kapak batu, gerabah, dan replika peralatan berburu. Artefak ini memberikan gambaran kehidupan manusia purba yang pernah mendiami Lampung. Di sini, saya belajar bagaimana masyarakat Lampung berkembang dari era berburu hingga bercocok tanam, sebuah proses yang merefleksikan daya adaptasi dan kreativitas manusia dalam menghadapi alam.

Koleksi senjata khas Lampung

Lebih jauh, terdapat koleksi senjata tradisional seperti keris dan tombak, yang menjadi simbol keberanian masyarakat Lampung dalam melindungi komunitasnya. Filosofi senjata ini tidak hanya berbicara tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang keberanian moral dan tanggung jawab.

Rumah Adat Nuwo Sesat: Sebuah Refleksi Sejarah


Rumah Adat Nuwo Sesat

Salah satu koleksi favorit saya adalah replika Nuwo Sesat, rumah adat Lampung. Nuwo Sesat merupakan simbol kebersamaan dan musyawarah, tempat masyarakat berkumpul untuk memecahkan masalah secara kolektif. Konsep rumah panggung ini juga mencerminkan keharmonisan dengan alam—dengan struktur yang mengurangi risiko dari banjir dan melindungi penghuni dari binatang liar.

Masuk ke dalam replika ini, saya seolah dibawa ke zaman di mana masyarakat Lampung hidup berdampingan dalam harmoni, saling membantu dan menjunjung nilai gotong royong. Tempat ini mengingatkan saya akan pentingnya kebersamaan di tengah individualisme yang kerap kita temui di zaman modern.

Naskah Kuno dan Makna Literasi


Koleksi Naskah Kuno

Ketika langkah kaki saya memasuki ruang terakhir Museum Lampung, saya menemukan sesuatu yang luar biasa—deretan naskah kuno yang berusia ratusan tahun. Di balik lemari kaca yang elegan, terpampang naskah-naskah beraksara Lampung, aksara yang kini mulai jarang digunakan, namun pernah menjadi bagian penting dari peradaban masyarakat setempat. Keberadaan naskah-naskah ini seperti bisikan dari masa lalu, mengingatkan kita akan kejayaan literasi di Lampung yang mungkin selama ini tak banyak diketahui oleh khalayak luas.

Naskah-naskah yang tersimpan di museum ini terbuat dari berbagai medium tradisional, mulai dari kulit kayu hingga daun lontar. Tulisan-tulisan dalam aksara Lampung diukir dengan alat-alat sederhana, namun hasilnya mencerminkan keindahan seni tulis yang menuntut ketelitian luar biasa. Beberapa naskah berisi hukum adat, seperti tata cara penyelesaian konflik antarwarga atau panduan menjalankan ritual keagamaan. Naskah lainnya memuat kisah-kisah legenda dan cerita rakyat yang kaya akan nilai-nilai moral, seperti tentang pentingnya menjaga keharmonisan dengan alam dan sesama manusia.

Ada pula naskah berbentuk puisi atau syair, yang disebut "Pitam Tuha" (kata-kata bijak orang tua). Naskah-naskah ini biasanya berisi petuah kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu kutipan yang menarik perhatian saya berbunyi:

"Hiya bumi nenggik kekek, hiya adat nenggik pepadun"
(Tanah akan tetap di tempatnya, dan adat akan tetap menjadi tiang penopang).

Kalimat ini mencerminkan filosofi bahwa adat dan tradisi adalah akar kehidupan masyarakat Lampung, yang harus dijaga dengan penuh penghormatan seperti menjaga bumi yang kita tinggali.

Saat saya berdiri di depan salah satu naskah yang tertulis di atas daun lontar, saya merasa seolah-olah para leluhur sedang berbicara kepada saya melalui kata-kata mereka. Ada semacam energi spiritual yang terpancar, mengingatkan bahwa setiap huruf yang mereka ukir mengandung doa, harapan, dan keinginan untuk membangun masyarakat yang lebih baik.

Perasaan haru muncul ketika saya menyadari bahwa literasi tradisional ini pernah menjadi fondasi kehidupan masyarakat Lampung. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, naskah-naskah ini adalah pengingat bahwa di balik segala kemajuan teknologi, ada nilai-nilai kemanusiaan yang tidak boleh kita lupakan.

Melihat naskah-naskah ini, saya mulai merenungkan peran literasi dalam budaya Lampung pada masa lampau. Berbeda dengan literasi modern yang sering kali berbasis pada buku cetak dan teknologi, literasi dalam tradisi Lampung memiliki dimensi yang lebih mendalam. Literasi bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga alat untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai luhur.

Literasi menjadi media komunikasi antar-generasi. Naskah-naskah ini adalah jembatan yang menghubungkan para leluhur dengan generasi masa kini, menyampaikan pesan moral, sejarah, dan petunjuk kehidupan yang tetap relevan hingga hari ini. Dalam konteks ini, literasi tidak hanya mencerdaskan secara intelektual, tetapi juga membangun karakter dan spiritualitas.

Namun, di balik keindahan ini, ada sisi yang menyedihkan. Beberapa naskah tampak rapuh, warnanya memudar seiring berjalannya waktu. Berbagai upaya pelestarian telah dilakukan oleh Museum Lampung dan para peneliti. Salah satunya adalah digitalisasi naskah-naskah kuno ini, sehingga salinan elektroniknya dapat diakses oleh peneliti maupun masyarakat umum. Selain itu, museum juga mengadakan program edukasi, seperti kelas aksara Lampung dan lokakarya penulisan tradisional, untuk menghidupkan kembali minat generasi muda terhadap warisan ini.

Apa yang dapat kita pelajari dari keberadaan naskah kuno ini? Salah satu pesan pentingnya adalah pentingnya menjaga warisan literasi sebagai identitas budaya. Di tengah arus globalisasi yang kerap menyeragamkan cara hidup, naskah-naskah ini mengingatkan kita untuk tetap berakar pada tradisi lokal.

Naskah-naskah ini juga mengajarkan bahwa literasi adalah alat transformasi. Pada masa lalu, literasi tidak hanya digunakan untuk mencatat hukum adat atau legenda, tetapi juga untuk menegakkan keadilan, menyebarkan ilmu pengetahuan, dan mempererat hubungan sosial dalam komunitas. Maka, tugas kita hari ini adalah melanjutkan tradisi ini, dengan cara yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Koleksi naskah kuno di Museum Lampung adalah harta karun yang tak ternilai harganya. Mereka bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga cermin budaya yang menunjukkan identitas, kebijaksanaan, dan nilai-nilai luhur masyarakat Lampung.

Perjalanan saya ke Museum Lampung tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membangkitkan kesadaran tentang pentingnya literasi sebagai alat untuk menjaga kesinambungan budaya. Di balik setiap huruf dalam naskah-naskah ini, ada pesan abadi: bahwa sejauh apa pun kita melangkah ke depan, kita tidak boleh melupakan akar kita. Sebab, akar itulah yang akan memberikan kita kekuatan untuk bertumbuh. (LZ)


Jumat, 05 Januari 2024

AWAL PERTAMA TINGGAL DI TULUNGAGUNG DAN SERUNYA BERBELANJA DI PASAR TRADISIONAL TAMANAN TULUNGAGUNG

Saya dan Zidan (anak saya) di Alun-Alun Tulungagung saat masih seminggu tinggal di Tulungagung, dan Zidan masih berumur 1 tahun

Sudah menjelang sepuluh tahun saya tinggal di Kabupaten Tulungagung. Sebelumnya, saya tidak pernah mengira jika akan tinggal di Kabupaten ini. Bahkan, 10 tahun yang lalu, saya tidak tahu jika ternyata Kabupaten Tulungagung adalah masih wilayah Provinsi Jawa Timur. Saat itu, saya mengira Tulungagung adalah wilayah Provinsi Jawa Tengah. Nampaknya, wawasan geografinya saya perlu ditingkatkan lagi. Maklum, dulu jarang sekali mengeksplor wilayah Jawa Timur bagian selatan.

Awalnya, setelah lulus S2 tahun 2011, saya mengajar sebagai Dosen Luar Biasa (DLB) di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel Surabaya. Hingga pada tahun 2013, ada informasi penerimaan CPNS Dosen di beberapa PTKIN. Sayangnya, formasi saya tidak ada di UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Pasalnya, saat itu UINSA membutuhkan banyak dosen SAINTEK dan Kesehatan. Formasi Dosen yang sesuai dengan keilmuan saya hanya ada di Tulungagung dan di salah satu PTKIN wilayah Sumatera.

Pada akhirnya, saya meminta izin ke Kajur untuk mendaftar di UIN SATU Tulungagung (saat itu masih bernama STAIN Tulungagung). Saat itu, beliau menyampaikan, kenapa tidak menunggu tahun depan saja, sepertinya akan ada formasi untuk saya. Namun, saya menyampaikan bahwa saya ingin mencoba dulu di STAIN Tulungagung. Eh, ternyata di luar dugaan, saya lulus tes CPNS di STAIN Tulungagung setelah melewati beberapa tahap ujian hingga akhirnya menyisakan 3 orang dari sekian banyak orang yang memperebutkan formasi dosen Filsafat di STAIN Tulungagung kala itu.

Sumber: https://jatim.kemenag.go.id/file/file/pengumumancpnstahun2013/gsur1388466418.pdf

Pemberkasan CPNS saat itu begitu luar biasa, karena dilakukan menjelang malam tahun baru. Implikasinya, urusan administrasi menjadi agak terhambat. Seperti saat mencari Surat Keterangan Kelakuan Baik di kantor kepolisian, di mana petugasnya banyak yang bertugas di luar untuk operasi menjelang tahun baru. Belum lagi harus legalisir ijazah dari Kepala Madrasah/Sekolah dan Kemenag serta Dinas Pendidikan mulai dari SD hingga S2. Jadi, harus riwa-riwi ke sekolah MI & SMP di Sidoarjo, Kemenag Sidoarjo dan Dinas Pendidikan Sidoarjo, SMA di Surabaya dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya, legalisir ijazah S1 di Kampus Utama UINSA, dan Ijazah S2 di Pascasarjana UINSA yang saat itu lokasinya berada di GreenSA Juanda Surabaya. Tak lupa, juga mengurus surat keterangan sehat jasmani & rohani, serta surat keterangan bebas narkoba.

Saya masih sangat ingat betapa perjuangan pemberkasan saat itu membutuhkan energi yang begitu besar karena harus ke sana ke mari dan dikejar deadline yang hanya beberapa hari saja. Belum lagi jalanan begitu ramai karena tahun baru. Hingga akhirnya, pemberkasan berhasil saya dan kawan-kawan seangkatan rampungkan tepat saat Isya' di tanggal 31 Desember 2013. Begitu saya pulang ke Sidoarjo, langsung disambut dengan suara mercon dan kembang api di langit. Pertanda bahwa saya tiba di rumah tepat pergantian tahun 2013 ke 2014.

Saya mulai tinggal di Tulungagung tahun 2014. Awalnya, saya belum bisa beradaptasi dengan suasana Tulungagung. Apalagi saya belum tahu beberapa tempat tertentu di Tulungagung. Suasana yang begitu ramai hingga tengah malam saat saya tinggal di Sidoarjo (Perbatasan Surabaya Barat), tidak saya temukan di Tulungagung. 10 tahun yang lalu, wilayah Plosokandang Tulungagung tidak seramai saat ini, seiring dengan alih status STAIN menjadi IAIN dan UIN serta bertambahnya jumlah mahasiswa dari yang saat itu masih kurang lebih 3.000 an, hingga saat ini sudah lebih dari 26.000 mahasiswa. Jumlah mahasiswa UIN SATU saat ini terbanyak untuk tingkat PTKIN di Jawa Timur.

Awal mengajar 2014, hampir semua mahasiswa yang saya ajar, saya mengenal namanya. Sekarang, karena saking banyaknya, hanya beberapa nama saja yang saya hafal, yakni PJ kelas, Ketua Kelas, dan mahsiswa yang aktif di kelas saja. Suasana kekeluargaan dan keramahan saya temukan di kampus ini. Karena beberapa dosen adalah orang-orang sekitar Tulungagung, Kediri, Blitar, Trenggalek, Nganjuk, dan juga wilayah Jawa Tengah, membuat saya merasa kagok dalam berbicara. Pasalnya, bahasa Jawa Krama saya tidak seberapa bagus. Sementara orang-orang di sini bahasa Jawanya halus sekali. Saya merasa seperti flash back ujian Bahasa Jawa saat masih MI & SMP dulu, di mana saya sangat tidak menguasai krama inggil.

Seiring dengan waktu, Tulungagung mulai banyak pembangunan. Tidak hanya UIN saja yang membangun, namun Pemerintah Daerah Tulungagung juga membangun infrastruktur. Potensi wisata wilayah Tulungagung bagian selatan mulai dikembangkan dengan hadirnya Jalur Lintas Selatan (JLS) Tulungagung yang menghubungkan Tulungagung dengan Trenggalek dan Pacitan, serta Blitar dan Malang ke depan. JLS ini nampak mempesona, pasalnya deretan pantai yang sangat indah ada di wilayah ini. Mulai dari Pantai Gemah, Klathak, Sidem, Popoh, Midodaren, Pacar, Sanggar, Dlodo, Patuk Gebang, Kedung Tumpang, dan lain-lain.

Tidak hanya sektor wisata, sektor perekonomian juga diperhatikan dengan melakukan pembangunan dan renovasi pasar-pasar rakyat. Nah, berbicara tentang pasar, saya senang sekali tatkala jalan-jalan ke pasar-pasar di daerah Tulungagung. Pasalnya, pasar ini didominasi oleh warga lokal, tidak seperti pasar di Sidoarjo dan Surabaya yang lebih didominasi orang-orang Madura. Sehingga, proses transaksi jual beli begitu sangat menyenangkan, karena para pedagang sangat ramah, bahasanya santun, dan murah senyum.

Selain itu, pasar-pasar di sini juga bersih dan rapi. Jarang sekali ditemui pasar yang sampahnya menggunung atau berserakan di mana-mana sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Kaitannya dengan kerapihan dan kebersihan, Pemkab dan orang-orang Tulungagung saya acungi jempol. Bahkan, tata ruang di Kabupaten Tulungagung, baik yang di wilayah tengah kota, hingga di desa-desa, nampak rapi dan bersih.

Pasar Rakyat Tamanan Tulungagung

Nah, salah satu Pasar yang menjadi destinasi belanja saya hari ini adalah Pasar Rakyat Tamanan-Tulungagung. Pasar Tamanan adalah jantung kota yang berdenyut dengan kehidupan sehari-hari dan kegiatan perdagangan yang ramai. Terletak di pusat kota Tulungagung, pasar ini mudah dijangkau dan menjadi salah satu destinasi utama bagi warga lokal dan wisatawan yang ingin merasakan atmosfer pasar tradisional yang khas.

Ketika para pengunjung memasuki Pasar Tamanan, pengunjung akan langsung disambut oleh keramaian dan warna-warni aktivitas pasar. Bangunan-bangunan klasik dan arsitektur tradisional di sekitar pasar menambah daya tarik pasar ini. Suara pedagang yang berteriak, bau rempah-rempah, dan warna-warni payung di atas setiap gerai menciptakan atmosfer yang penuh dengan keramahan dan aktivitas ekonomi yang sangat dinamis.

Suasana jual beli di Pasar Tamanan Tulungagung

Pasar Tamanan memiliki denah yang teratur dengan lorong-lorong yang saling terhubung, hal ini memudahkan pengunjung untuk menjelajah setiap sudut pasar. Setiap lorong memiliki tema khusus, mulai dari buah-buahan dan sayuran hingga pakaian dan kerajinan tangan. Denah yang teratur ini membantu pengunjung untuk menemukan produk yang mereka cari tanpa kesulitan.

Gerai dan kios di Pasar Tamanan dipenuhi dengan produk-produk yang beragam. Payung-payung yang berwarna-warni dan kain penutup meja yang indah menambah keceriaan visual pasar. Setiap gerai dikelola oleh pedagang yang ramah dan bersahabat, siap memberikan informasi dan membantu pengunjung menemukan barang yang diinginkan.

Pasar Tamanan Tulungagung adalah sebuah tempat yang kaya akan warna dan kehidupan. Pasar ini menawarkan beragam produk yang mencerminkan kekayaan budaya dan kearifan lokal. Ketika pengunjung melangkah masuk ke lorong-lorong pasar yang ramai, pengunjung akan disuguhi oleh berbagai pilihan barang dan produk yang menarik hati. Berikut adalah narasi mengenai apa saja yang dapat pengunjung temukan di Pasar Tamanan Tulungagung

1. Hasil Pertanian Segar

a. Buah-buahan Lokal

Pasar ini menjadi tempat bagi para petani lokal untuk menawarkan hasil bumi mereka. Dari mangga manis hingga rambutan lezat, setiap penjuru pasar dipenuhi dengan keharuman dan warna-warni buah-buahan segar.

Stand penjual sayur di Pasar Tamanan

b. Sayuran Organik

Lorong-lorong yang dikelilingi oleh tumpukan sayuran segar menjadi daya tarik tersendiri. Sayuran organik, seperti kangkung, bayam, dan tomat, menanti para pengunjung yang ingin membawa pulang kelezatan dan kesegaran alam.

2. Produk Lokal Khas Tulungagung

a. Kain Tenun dan Batik

Pasar Tamanan juga dikenal sebagai pusat kain tenun dan batik. Setiap gerai dipenuhi dengan kain-kain indah yang mencerminkan keahlian para pengrajin lokal. Motif tradisional yang khas Tulungagung memberikan sentuhan budaya yang kuat pada setiap karya.

b. Kerajinan Tangan Unik

Berbagai kerajinan tangan seperti tas anyaman, boneka tangan, dan aksesori unik juga dapat ditemukan di pasar ini. Setiap produk menggambarkan kecerdasan dan kreativitas para pengrajin lokal.

3. Kuliner Khas Tulungagung

a. Jajan Pasar Tradisional

Pasar Tamanan menyuguhkan berbagai jajan pasar tradisional yang lezat dan unik. Lemper, klepon, dan lupis adalah beberapa contoh jajanan khas Tulungagung yang dapat dinikmati para pengunjung.

Aneka jajanan tradisional yang dijual di Pasar Tamanan Tulungagung

b. Makanan Ringan Tradisional

Lorong-lorong di pasar ini dipenuhi dengan aroma makanan ringan tradisional yang menggoda selera. Mulai dari tempe mendoan hingga getuk, setiap sudut pasar menyajikan pilihan kuliner yang memuaskan.

4. Pakaian dan Aksesoris

a. Busana Tradisional

Pasar ini juga menjadi tempat yang ideal untuk mencari busana tradisional Jawa Timur. Mulai dari batik hingga kebaya, pengunjung dapat menemukan pilihan busana yang cantik dan berkualitas tinggi.

b. Aksesoris Unik

Gerai-gerai di Pasar Tamanan menawarkan beragam aksesoris seperti kalung, gelang, dan anting-anting dengan sentuhan lokal yang unik. Setiap aksesoris menceritakan cerita dan keindahan kultur Tulungagung.

Dengan keberagaman produk yang ditawarkan, Pasar Tamanan Tulungagung tidak hanya menjadi tempat untuk berbelanja, tetapi juga destinasi yang memperkaya pengalaman budaya dan kuliner bagi setiap pengunjungnya.

Bagian pasar yang khusus untuk kuliner menjadi pusat daya tarik tersendiri. Aroma masakan khas Tulungagung menguar di udara, mengundang pengunjung untuk mencicipi berbagai hidangan lezat. Warung-warung kecil dengan meja dan kursi sederhana menciptakan suasana yang hangat dan nyaman bagi para pelanggan.

Saya berada di stand-stand kuliner, tersedia Nasi Campur, Nasi Pecel, Mie Ayam, dan aneka masakan, jajanan serta minuman tradisional lainnya

Pasar Tamanan bukan hanya tempat untuk berbelanja, tetapi juga menjadi arena interaksi budaya yang akrab. Penduduk lokal yang ramah dan cerita-cerita tradisional yang mereka bagikan menciptakan pengalaman yang mendalam bagi para pengunjung yang ingin lebih memahami kehidupan sehari-hari masyarakat Tulungagung.

Pengelolaan Pasar Tamanan oleh Pemerintah Daerah Tulungagung mencerminkan komitmen untuk memajukan sektor perdagangan tradisional dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Berbagai kebijakan dan upaya dilakukan untuk meningkatkan kualitas pasar, memfasilitasi pedagang, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Satu hal yang berbeda yang saya temui di Tulungagung adalah minimarket seperti Alfamart dan Indomart tidak buka 24 jam di Tulungagung. Kalau pagi pun bukanya biasanya antara jam 7-8 pagi. Ini menunjukkan keberpihakan kepada pedagang kecil.

Seiring dengan perkembangan zaman, modernisasi infrastruktur pasar perlu dilakukan. Renovasi dan perbaikan fisik dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman, dan aman bagi pengunjung. Pembangunan kios-kios yang teratur, penyediaan fasilitas sanitasi yang memadai, dan perbaikan tata ruang pasar merupakan langkah-langkah konkrit yang bisa dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pasar.

Pemerintah Daerah Tulungagung mulai nampak melakukan upaya untuk meningkatkan keamanan di Pasar Tamanan. Penegakan aturan, termasuk perizinan dan standar kesehatan diawasi secara ketat untuk memastikan bahwa semua pedagang beroperasi dengan mematuhi norma-norma yang berlaku. Keamanan pasar menjadi prioritas untuk menciptakan lingkungan yang nyaman bagi pengunjung.

Dengan serangkaian kebijakan dan upaya ini, Pemerintah Daerah Tulungagung berupaya menjadikan Pasar Tamanan sebagai pusat perdagangan yang dinamis, berdaya saing, dan memberikan kontribusi positif bagi ekonomi lokal serta kesejahteraan masyarakat.

Pengelolaan Pasar Tamanan di masa mendatang akan dihadapkan pada sejumlah tantangan yang perlu diatasi untuk memastikan keberlanjutan dan peningkatan kualitas pasar. Beberapa tantangan tersebut melibatkan aspek ekonomi, sosial, teknologi, dan lingkungan. Tantangan ini yang harus segera diantisipasi dan dicarikan solusi oleh Pemerintah Daerah.

Meningkatnya penetrasi e-commerce dan globalisasi dapat menjadi tantangan serius bagi pasar tradisional seperti Pasar Tamanan. Perubahan pola belanja masyarakat yang beralih ke belanja online dapat mengurangi jumlah pengunjung pasar fisik. Oleh karena itu, pengelola pasar perlu menghadapi tantangan ini dengan meningkatkan daya tarik dan layanan pasar tradisional agar tetap bersaing.

Perubahan gaya hidup masyarakat, terutama yang berkaitan dengan preferensi belanja dan pola konsumsi, dapat memengaruhi permintaan di pasar tradisional. Jika masyarakat lebih memilih belanja di pusat perbelanjaan modern atau pusat perbelanjaan online, Pasar Tamanan perlu beradaptasi dengan menyediakan produk-produk yang sesuai dengan perubahan preferensi konsumen.

Perkembangan teknologi yang cepat menuntut pengelola pasar untuk terus memperbarui sistem manajemen dan infrastruktur teknologi di pasar. Penggunaan sistem manajemen berbasis teknologi yang canggih dapat membantu meningkatkan efisiensi operasional, pengelolaan stok, dan pelayanan kepada pelanggan.

Seiring dengan perkembangan zaman, maka tentu akan ada peningkatan biaya operasional, seperti pajak, sewa tempat, dan biaya utilitas. Hal ini dapat menjadi beban berat bagi pedagang di Pasar Tamanan. Pengelola pasar perlu mencari solusi untuk mengelola biaya operasional agar tetap terjangkau bagi pedagang, sambil tetap memastikan kualitas dan keberlanjutan pasar.

Pasar Tamanan perlu memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan. Pengelolaan limbah, efisiensi energi, dan penggunaan bahan ramah lingkungan dapat menjadi perhatian utama untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pasar dan dampak lingkungan yang mungkin terjadi.

Dengan kesadaran akan tantangan-tantangan ini, pengelola Pasar Tamanan dapat merancang strategi yang sesuai untuk menjawab perubahan dinamika pasar dan memastikan keberlanjutan serta relevansi pasar tradisional di tengah perubahan zaman. (Laila)

Jumat, 29 Desember 2023

PERJALANAN ZIARAH KE MAKAM GURU ZUHDI: MENYINGKAP SEJARAH, BUDAYA, PERGUMULAN DENGAN FILSAFAT, PANDANGANNYA TENTANG KESETARAAN GENDER DAN KHARISMA YANG MENGINSPIRASI

Makam Guru Zuhdi yang ditutup dengan tirai hijau

Sekilas Sejarah Guru Zuhdi

Hampir setiap perjalanan saya ke luar kota atau ke luar pulau, selain melaksanakan tugas dinas, juga menyempatkan untuk berkunjung ke destinasi wisata di tempat yang saya kunjungi. Tempat wisata yang dimaksud, bisa berbagai macam tempat, seperti wisata sejarah, wisata budaya, wisata religi, wisata kuliner, dan lain sebagainya. Kali ini, tanggal 14 Desember 2023, saya berada di Kota Banjarmasin, salah satu kota terbesar di Kalimantan Selatan. Selain mengexplore wisata alam dan kulinernya, saya juga menyempatkan untuk melakukan wisata religi dengan berziarah ke makam salah satu Ulama' Banjar.

Bagi saya, perjalanan ziarah bukan hanya sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual dan intelektual yang dapat mengungkapkan berbagai aspek sejarah, budaya, dan kharisma dari tokoh-tokoh berpengaruh. Salah satu perjalanan ziarah yang menarik dan bermakna saya di Kota banjarmasin adalah ke makam Guru Zuhdi, seorang tokoh yang dikenal karena warisannya yang besar dalam dunia spiritual dan pendidikan.

Makam Guru Zuhdi menjadi saksi bisu dari rentang waktu yang panjang, menyimpan cerita-cerita yang terukir di batu nisan. Melangkah di antara barisan makam yang tertata rapi, kita dapat merasakan kehadiran sejarah yang hidup. Guru Zuhdi, seorang guru dan spiritualis terkemuka, meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah lokal. Ia dikenang sebagai sosok yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan.

K.H. Zuhdiannor (Guru Zuhdi)

Nama lengkap Guru Zuhdi adalah K.H. Ahmad Zuhdiannoor. Beliau lahir di Banjarmasin pada tanggal 10 Februari 1972 dari pasangan K.H. Muhammad bin Jafri dan Hj. Zahidah binti K.H. Asli. K.H. Ayah dan Kakek beliau (K.H. Asli) merupakan ulama yang cukup terkenal di kalangan masyarakat. Ayahnya merupakan pimpinan Pondok Pesantren Al-Falah (Selapas wafatnya K.H. Muhammad Sani) dan alumni Pondok Pesantren Darussalam Martapura yang merupakan sahabat karib dari KH. Muhammad Zaini Ghani. Sementara itu, kakek beliau merupakan ulama yang tinggal di Alabio (Bahasa Banjar: Halabiu), yang saat ini disebut Kecamatan Sungai Pandan.

Sejak kecil, beliau telah menunjukkan ketertarikan yang mendalam terhadap pengetahuan spiritual dan kebijaksanaan. Hal ini karena Guru Zuhdi lahir dalam sebuah keluarga yang kental dengan nilai-nilai keagamaan dan kecintaan pada ilmu pengetahuan. Pendidikan awalnya tidak hanya mencakup baca-tulis-berhitung, tetapi juga didorong oleh keluarganya untuk memahami nilai-nilai moral dan etika yang menjadi landasan kehidupan.

Langkah pertama Guru Zuhdi dalam perjalanan pendidikannya dimulai di sekolah lokal. Di sana, ia menunjukkan bakat dan minat yang luar biasa dalam belajar. Guru-gurunya yang cerdas melihat potensinya dan memberikan dorongan ekstra untuk mengembangkan kecerdasannya. Keinginan beliau untuk mengetahui lebih banyak tentang dunia ilmu pengetahuan mulai terpancar.

Guru Zuhdi, meskipun lahir dalam lingkungan yang sederhana, namun beliau memiliki tekad yang kuat untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi. Keinginannya untuk menuntut ilmu membawanya melintasi batas-batas negeri menuju tempat-tempat yang kaya akan ilmu pengetahuan. Di luar negeri, ia tidak hanya memperdalam pengetahuan keagamaan, tetapi juga merambah berbagai cabang ilmu pengetahuan lainnya. Hal ini menjadikan beliau figur yang memiliki pemahaman yang holistik terhadap kehidupan.

Dengan tekad yang kuat untuk mengejar ilmu yang lebih tinggi, Guru Zuhdi memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Perjalanan beliau membawa beliau ke pusat-pusat pendidikan terkemuka di luar negeri. Di sana, beliau tidak hanya menekuni studi agama dan filsafat, tetapi juga merambah ke berbagai bidang ilmu pengetahuan. Kombinasi keterampilan akademisnya yang cemerlang dan kepribadiannya yang rendah hati membuatnya dikenal di kalangan sesamanya.

Guru Zuhdi tidak hanya berfokus pada aspek akademis semata, melainkan juga merangkul dimensi spiritual dalam setiap aspek kehidupannya. Ia memahami bahwa ilmu pengetahuan dan spiritualitas dapat saling melengkapi, membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga berakhlak baik. Pendidikannya mencakup pemahaman mendalam tentang ajaran agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan alam.

Setelah menyelesaikan pendidikan beliau, Guru Zuhdi kembali ke tanah air untuk berbagi pengetahuan yang beliau dapatkan. Beliau terlibat dalam dunia akademis, menjadi dosen di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Keberhasilan beliau tidak hanya terukir dalam prestasi akademis murid-murid beliau, tetapi juga dalam cara beliau menginspirasi mereka untuk berpikir kritis, merangkul nilai-nilai moral, dan menggali potensi batin mereka.

Guru Zuhdi juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Karya beliau tidak hanya tulisan bernuansa agama, tetapi juga kumpulan pemikiran filsafat dan ajaran kebijaksanaan hidup. Melalui tulisan, beliau mewariskan nilai-nilai kehidupan yang dapat membimbing generasi selanjutnya. Guru Zuhdi mencapai puncak karier bukan hanya sebagai seorang pendidik terkemuka tetapi juga sebagai pemimpin spiritual yang dihormati. Pengalaman dan pengetahuan beliau menciptakan daya tarik yang tak terbantahkan. Hal ini yang menjadikan beliau sebagai figur yang dicari untuk memberikan petunjuk dan bimbingan.

Jejak Budaya Guru Zuhdi

Guru Zuhdi, tidak hanya dikenal karena warisan beliau dalam bidang spiritual dan pendidikan, tetapi juga karena pengaruh beliau yang mendalam dalam membentuk budaya lokal. Jejak budaya yang ditinggalkan oleh Guru Zuhdi membentuk fondasi kearifan lokal dan nilai-nilai tradisional yang masih hidup dan relevan hingga hari ini.

Salah satu jejak budaya yang kuat yang ditinggalkan oleh Guru Zuhdi adalah pelestarian tradisi lokal melalui pendidikan. Beliau tidak hanya menekankan pentingnya ilmu pengetahuan global, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam setiap pelajaran, beliau membawa elemen budaya setempat untuk menjaga kekayaan tradisional.

Guru Zuhdi memahami peran penting seni dan kesenian dalam membentuk karakter dan moral. Jejak budaya ini tercermin dalam integrasi seni tradisional dalam kegiatan pendidikan. Mulai dari pertunjukan seni rakyat hingga kelas-kelas kesenian. Selain itu, Guru Zuhdi juga menciptakan suasana yang memadukan nilai-nilai budaya dengan pembelajaran yang bernuansa akademis.

Guru Zuhdi sering menginisiasi festival kebudayaan dan kesenian sebagai sarana untuk memperkenalkan dan melestarikan warisan budaya lokal. Festival ini tidak hanya menjadi panggung bagi seniman lokal, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat ikatan sosial dalam masyarakat. Jejak festival ini terus diteruskan sebagai momen yang dinanti-nanti oleh warga setempat.

Perayaan-perayaan tradisional diadakan dengan semangat yang penuh kehangatan dan keakraban berkat usaha Guru Zuhdi. Dari peringatan hari-hari besar keagamaan hingga acara-acara adat, setiap perayaan menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas masyarakat. Jejak ini tidak hanya membentuk warisan budaya, tetapi juga membangun fondasi untuk keharmonisan sosial.

Jejak budaya Guru Zuhdi yang lainnya adalah beliau menjadikan pemertahanan bahasa daerah sebagai salah satu prioritasnya. Melalui kegiatan-kegiatan edukatif, beliau mendorong para murid dan komunitas untuk tetap menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Lagu-lagu daerah, cerita rakyat, dan pepatah lokal menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan yang diberikan oleh beliau.

Jejak budaya Guru Zuhdi juga tercermin dalam penekanan beliau pada etika dan tatanan sosial lokal. Beliau mengajarkan pentingnya norma-norma sosial dalam interaksi sehari-hari. Pelajaran-pelajaran ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi diimplementasikan dalam kegiatan-kegiatan keseharian, membentuk karakter dan perilaku positif di masyarakat.

Jejak budaya yang ditinggalkan oleh Guru Zuhdi bukan hanya sebagai warisan, tetapi sebagai sumber kekuatan bagi masyarakat. Nilai-nilai kearifan lokal yang dia tanamkan membentuk identitas kultural yang kuat dan memberikan fondasi bagi pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Melangkah lebih jauh, jejak budaya Guru Zuhdi menjadi pendorong untuk melestarikan dan mengembangkan kearifan lokal sebagai modal berharga untuk masa depan.

Pergumulan dengan Filsafat

Sebagai seorang pendidik dan pemimpin spiritual yang terkemuka, Guru Zuhdi tidak hanya menelusuri dunia ilmu pengetahuan konvensional, tetapi juga menggali ke dalam dunia filsafat yang mendalam. Pergumulan Guru Zuhdi dengan filsafat menciptakan dimensi baru dalam perjalanan intelektual beliau, serta menghadirkan kedalaman pemikiran dan kebijaksanaan yang menginspirasi banyak orang.

Ketika masih menjalani pendidikan tinggi di luar negeri, Guru Zuhdi mulai merasakan kegelisahan beliau terkait dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang menghantui pikirannya. Ketertarikan beliau terhadap filsafat tumbuh pesat, dan beliau mulai mengeksplorasi berbagai aliran pemikiran, mulai dari filsafat klasik hingga filsafat kontemporer.

Guru Zuhdi percaya bahwa filsafat bukan hanya sebatas kumpulan konsep-konsep intelektual, tetapi juga merupakan cermin yang mencerminkan kehidupan sehari-hari. Beliau menggali filsafat sebagai sarana untuk memahami makna hidup, tujuan eksistensi manusia, dan peran individu dalam kebesaran alam semesta.

Perjalanan filsafat Guru Zuhdi tidak terlepas dari pertemuan beliau dengan karya-karya besar filsuf-filsuf terkemuka. Dari filsuf-filsuf klasik seperti Plato, Aristoteles, hingga pemikir-pemikir modern seperti Sartre dan Kierkegaard, setiap karya menjadi sumber pencerahan bagi beliau. Beliau mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan filosofis yang membawa beliau melakukan refleksi diri secara mendalam.

Pergumulan Guru Zuhdi dengan filsafat seringkali terpusat pada hubungan antara ilmu pengetahuan dan keimanan. Beliau tidak hanya melihat filsafat sebagai sarana intelektual, tetapi juga sebagai jembatan untuk menyatukan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai spiritual. Pergumulan tersebut menghadirkan pemahaman yang mendalam tentang harmoni antara akal dan hati.

Filsafat bagi Guru Zuhdi bukan hanya tentang pemikiran abstrak, tetapi juga tentang panduan etika dalam hidup. Beliau menggali filsafat sebagai sumber kebijaksanaan untuk membimbing perilaku dan tindakan sehari-hari. Konsep-konsep moral dari filsafat menjadi landasan bagi ajaran-ajaran yang beliau sampaikan kepada murid-murid beliau.

Pergumulan Guru Zuhdi dengan filsafat membawa pencerahan yang mendalam, tidak hanya bagi beliau, tetapi juga dan orang-orang yang terinspirasi oleh pemikiran beliau. Beliau tidak hanya menjadikan filsafat sebagai sarana untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensial, tetapi juga sebagai sumber kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pergumulan beliau dengan filsafat menghadirkan suatu filosofi hidup yang memancarkan cahaya kebijaksanaan, mencerahkan jiwa-jiwa yang mencari arah dan makna dalam perjalanan hidupnya.

Pandangan Guru Zuhdi tentang Kesetaraan Gender

Pada era modern saat ini, isu-isu seputar gender semakin menjadi sorotan, termasuk dalam dunia pendidikan. Salah satu tokoh yang dikenal sebagai pemikir yang peduli terhadap peran gender dalam pendidikan adalah Guru Zuhdi. Dengan pengalaman dan pengetahuannya, Guru Zuhdi memberikan perspektif yang unik dan berharga terkait kesetaraan gender dalam dunia pendidikan.

Guru Zuhdi percaya bahwa pendidikan yang inklusif dan setara adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang adil dan berkeadilan. Bagi beliau, gender tidak boleh menjadi penghalang dalam mengakses pendidikan dan meraih potensi penuh seseorang. Beliau mendorong para pendidik untuk membangun lingkungan kelas yang mendukung semua siswa, tanpa memandang jenis kelamin mereka.

Salah satu konsep utama dalam pemikiran Guru Zuhdi adalah penekanan pada keberagaman dan penghargaan terhadap perbedaan. Beliau meyakini bahwa setiap individu, tanpa memandang jenis kelaminnya, memiliki keunikan dan kontribusi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu mengakomodasi keberagaman ini dan memastikan bahwa setiap siswa merasa diterima dan dihargai.

Guru Zuhdi juga mempromosikan kesadaran gender di kalangan siswa dan pendidik. Menurut beliau, pemahaman yang baik tentang peran gender dapat membantu mengatasi stereotip dan diskriminasi yang mungkin muncul di lingkungan pendidikan. Beliau berpendapat bahwa dengan menciptakan kesadaran ini, kita dapat membangun masyarakat yang lebih inklusif dan menghormati hak-hak setiap individu.

Pendidikan yang diadvokasi oleh Guru Zuhdi tidak hanya melibatkan siswa, tetapi juga melibatkan para orang tua dan komunitas. Beliau berpendapat bahwa perubahan nyata hanya dapat terjadi jika semua pihak terlibat aktif dalam mendukung pendidikan yang inklusif dan setara.

Dengan visinya yang progresif, Guru Zuhdi telah menjadi inspirasi bagi banyak pendidik dan aktivis gender. Pemikiran beliau membawa tantangan kepada kita semua untuk terlibat dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang mempromosikan kesetaraan gender dan mendukung perkembangan optimal setiap individu, tanpa memandang jenis kelamin.

Makam Guru Zuhdi atau K.H. Ahmad Zuhdiannoor

Menggali Kharisma dan Kearifan Guru Zuhdi yang Menyentuh Jiwa

Guru Zuhdi adalah sosok yang dikenal dengan kebijaksanaan dan aura kharismatiknya, melampaui peran beliau sebagai pendidik dan spiritualis. Kharisma beliau tak hanya tercermin dalam metode beliau mengajar, tetapi juga dalam kedalaman pemikiran beliau dan kebijaksanaan yang membentuk kearifan hidup yang tak ternilai harganya.

Guru Zuhdi membawa aura kharismatik beliau ke dalam setiap ruang kelas. Wajah beliau yang penuh ketenangan dan kata-kata yang diucapkan beliau dengan penuh perhatian mampu menciptakan atmosfer pembelajaran yang istimewa. Para murid merasakan bukan hanya transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga transfer nilai-nilai moral dan spiritual yang melekat pada pribadi Guru Zuhdi.

Guru Zuhdi tidak hanya berfokus pada transmisi informasi, tetapi juga pada pembentukan hubungan personal dengan setiap murid beliau. Guru Zuhdi membaca kebutuhan dan potensi setiap individu, menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi dan intelektual. Kharisma dan kearifannya menjadi jembatan yang menghubungkan guru dan murid dalam suatu pengalaman belajar yang tak terlupakan.

Guru Zuhdi mengajarkan pemikiran holistik yang melampaui batas-batas ilmu pengetahuan konvensional. Beliau merangkul aspek-aspek kehidupan, termasuk spiritualitas, etika, dan kebijaksanaan hidup. Setiap kajian yang disampaikan oleh beliau, tidak hanya menitikberatkan pada kecerdasan intelektual, tetapi juga membimbing para murid untuk membentuk karakter dan sikap positif.

Guru Zuhdi memahami pentingnya kecerdasan emosional dalam perkembangan pribadi. Kharisma beliau terletak pada kemampuannya membimbing para murid untuk memahami dan mengelola emosi mereka. Beliau tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana mencapai kesuksesan akademis, tetapi juga bagaimana membentuk hubungan yang sehat dengan diri sendiri dan orang lain.

Sebagai pemimpin spiritual, Guru Zuhdi memiliki kearifan dalam menyelesaikan konflik dan menciptakan perdamaian batin. Beliau mengajarkan bahwa kebijaksanaan bukan hanya terletak pada pengetahuan, tetapi juga dalam cara kita menanggapi konflik. Beliau tidak hanya mengajarkan kepada para murid untuk berpikir rasional, tetapi juga membawa kedamaian dalam diri mereka dan lingkungan sekitar.

Ceramah-ceramah Guru Zuhdi dipenuhi dengan kharisma yang mampu menyentuh hati pendengarnya. Beliau mampu menyampaikan ajaran-ajaran spiritual dengan kata-kata yang sederhana tetapi begitu dalam. Doa-doa yang diucapkan beliau tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga sarana untuk menyatukan hati dan memohon petunjuk kebijaksanaan.

Meskipun Guru Zuhdi telah tiada, kharisma dan kearifannya tetap hidup dalam setiap generasi yang mengambil warisan beliau. Murid-murid yang pernah mendengar ceramah dan merasakan kebijaksanaan beliau berupaya untuk meneruskan jejak kharisma dan kearifan itu dalam setiap aspek kehidupan mereka. Kharisma Guru Zuhdi tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan panduan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. (Laila)

PASAR APUNG LOK BAINTAN: EKSOTISME BUDAYA DAN PERAN PEREKONOMIAN PEREMPUAN DI PINGGIRAN SUNGAI TABUK BANJAR

Pasar Apung Lok Baintan Banjar

Eksotisme Budaya Pasar Apung Lok Baintan

Indonesia memiliki kekayaan budaya dan alam yang luar biasa, dan salah satu destinasi yang menggabungkan keduanya adalah Pasar Apung Lok Baintan di pinggiran Sungai Tabuk, Banjar. Saya mengunjungi Pasar ini tanggal 16 Desember 2023 kemarin. Pasar ini bukan hanya sekadar tempat berbelanja, tetapi juga menyuguhkan eksotisme budaya dan menjadi panggung bagi peran ekonomi perempuan yang menonjol. Pasar Apung Lok Baintan terletak di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Indonesia. Pasar ini memiliki sejarah panjang yang mencerminkan kehidupan masyarakat setempat. Dikatakan bahwa pasar ini telah ada sejak abad ke-17 M, dan menjadi pusat perdagangan antara suku Banjar dan suku Dayak. Bangunan-bangunan tradisional mengambang di atas sungai. Hal ini memberikan pemandangan unik dan menarik bagi para pengunjung.

Keunikan Pasar Apung Lok Baintan terletak pada arsitektur bangunan-bangunan kayu yang mengapung di atas sungai. Setiap bangunan memiliki warna dan desain yang khas, yang mampu menciptakan pemandangan yang indah dan mempesona. Pengunjung dapat menjelajahi pasar dengan perahu tradisional yang dikenal dengan sebutan "jukung" atau "ketinting", sambil merasakan sensasi menyusuri sungai yang tenang dan menikmati keindahan pasar apung.

Pasar Apung Lok Baintan memberikan pengalaman wisata yang tak terlupakan bagi para wisatawan. Terletak di tepi sungai yang tenang, membuat pasar ini memberikan perspektif yang berbeda tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar. Perahu-perahu kecil yang dihiasi dengan warna-warni khas Banjar menjadi daya tarik utama. Pemandangan ini menciptakan atmosfer yang magis, terutama saat matahari terbenam, mewarnai langit dan air sungai dengan warna-warni yang memukau.

Para Pedagang Perempuan yang berdagang sambil mengendarai jukung

Keunikan Pasar Apung Lok Baintan tidak hanya terletak pada tampilan fisiknya, tetapi juga dalam kekayaan budaya Banjar yang tercermin dalam setiap aktivitas para pedagang dan penyedia jasa perahu/jukung di pasar ini. Para pedagang yang berpakaian tradisional menambah kuatnya nuansa khas Banjar, serta menciptakan suasana yang dapat menghubungkan para wisatawan dengan sejarah dan warisan lokal. Suasana ramah dan hangat dari para pedagang lokal memberikan pengalaman interaktif yang tak terlupakan.

Selain keunikan tersebut, pasar ini juga merupakan tempat di mana budaya Banjar dan Dayak bertemu. Berbagai produk lokal seperti kain tenun, kerajinan tangan, dan hasil pertanian tradisional dipamerkan di pasar ini. Setiap produk mencerminkan kekayaan warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Pasar Apung dan Peran Perekonomian Perempuan

Di balik gemerlapnya pasar apung, terdapat cerita luar biasa tentang peran perempuan dalam perekonomian lokal. Banyak dari perempuan Banjar yang menjadi pedagang di pasar ini menjajakan berbagai barang dagangan mulai dari hasil pertanian, kerajinan tangan, hingga kuliner khas daerah. Keberanian dan keterampilan perempuan-perempuan ini memberikan kontribusi besar terhadap keberlanjutan pasar dan perekonomian lokal secara keseluruhan.

Seiring matahari terbit di langit timur Kalimantan Selatan, Pasar Apung Lok Baintan mulai hidup dengan hiruk-pikuk perdagangan. Saya menyaksikan keriuhan itu tatkala berkunjung ke Pasar Apung ini sekitar jam 7 pagi Waktu Indonesia Tengah (WITA). Namun, apa yang membuat pasar ini benar-benar istimewa adalah keunikan interaksi antara para pedagang perempuan dengan pengunjung, yang tidak hanya sekadar transaksi bisnis, tetapi juga merupakan pertunjukan seni berpantun yang menghidupkan suasana pasar.

Pedagang Perempuan yang berdagang di atas jukung/perahu

Setiap pagi, para pedagang perempuan menghiasi rak-rak perahunya dengan berbagai hasil kerajinan dan produk lokal bersiap untuk bertemu dengan pembeli. Namun, mereka tidak sekadar menunggu pembeli yang datang, melainkan memulai setiap interaksi dengan berpantun. Pantun-pantun ini merupakan tradisi turun-temurun yang tidak hanya menarik perhatian tetapi juga menciptakan atmosfer yang akrab dan ramah. Saya pun terkesima dengan pantun-pantun mereka. Seolah, pantun yang mereka lontarkan memiliki daya magis yang membuat pengunjung menjadi terpesona & ingin membeli barang dagangannya.

Pantun-pantun yang mereka lontarkan tidak hanya menciptakan keceriaan di antara para pengunjung, tetapi juga memamerkan keterampilan linguistik para pedagang perempuan. Mereka menjawab pertanyaan pembeli dengan cepat dan gesit, menggunakan kata-kata yang bermain senada dengan irama pantun. Pertunjukan berpantun ini menjadi semacam ritus yang meresapi pasar dengan kehangatan dan kebersamaan. Bukan hanya sekadar menjual barang dagangan, para pedagang perempuan menggunakan seni berpantun untuk menjalin hubungan personal dengan pembeli. Seakan-akan setiap transaksi adalah tarian kata yang mempererat ikatan antara penjual dan pembeli.



Dengan sentuhan kebudayaan yang unik ini, pedagang perempuan tidak hanya menjual produk mereka, tetapi juga menawarkan pengalaman belanja yang tak terlupakan, membangun ikatan emosional antara para pelanggan dan kekayaan budaya Pasar Apung Lok Baintan.

Pasar Apung Lok Baintan memberikan gambaran nyata tentang peran penting perempuan dalam perekonomian masyarakat setempat. Bagi saya, perempuan-perempuan pedagang di Pasar Apung Lok Baintan bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga agen perubahan ekonomi. Mereka tidak hanya menciptakan produk yang unik dan berkualitas, tetapi juga berperan dalam membangun komunitas yang kuat dan berkelanjutan.

Meskipun Pasar Apung Lok Baintan memiliki daya tarik yang kuat, tantangan tetap ada. Perubahan iklim, modernisasi, dan perubahan gaya hidup dapat mengancam eksistensi pasar ini. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan strategi keberlanjutan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat dan dukungan dari pemerintah.

Ada sesuatu yang tak kalah menarik yang saya jumpai tatkala berinteraksi dengan para pedagang perempuan di pasar ini, yakni wajah mereka yang sangat putih seolah bertabur tepung. Rupanya, keindahan dan keanggunan pedagang perempuan tidak hanya tercermin dari barang dagangan yang mereka tawarkan, tetapi juga dari ritual kecantikan tradisional yang mereka jaga dengan penuh dedikasi. Salah satu elemen penting dalam ritual kecantikan ini adalah penggunaan bedak tradisional yang memberikan sentuhan magis pada penampilan para pedagang.

Bedak tradisional yang digunakan oleh pedagang perempuan di pasar ini seringkali dibuat dari bahan-bahan alami yang dapat ditemukan di sekitar lingkungan mereka. Serbuk beras, tumbuhan herbal seperti kunyit, dan rempah-rempah lokal lainnya menjadi bahan dasar untuk menciptakan bedak dengan kualitas yang unggul.

Pedagang perempuan yang berdagang sambil menggunakan bedak tradisional

Saya sempat bertanya kepada tour guide saya di Banjar perihal bedak mereka. Sebelum memulai berjualan, para pedagang perempuan akan duduk bersama-sama, mengambil sedikit waktu untuk merawat dan mempercantik diri. Ritual ini tidak hanya merupakan kebiasaan rutin, tetapi juga menjadi bentuk persembahan kepada kecantikan alam dan kearifan lokal. Proses pengaplikasian bedak tradisional ini pun bukan semata-mata tentang tata cara kecantikan. Hal ini juga menjadi wujud penghormatan terhadap warisan nenek moyang, di mana pengetahuan tentang tanaman obat dan ramuan tradisional digunakan untuk merawat kulit dan menyempurnakan penampilan.

Dalam menerapkan bedak tradisional, pedagang perempuan tidak hanya memoleskan dengan rutin, tetapi juga menggunakan teknik-teknik khusus yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka mungkin menggunakan alat-alat tradisional seperti batu alam atau kuas yang terbuat dari bahan-bahan alami. Selain memberikan tampilan kulit yang segar dan berseri, bedak tradisional juga memiliki aroma alami yang memberikan nuansa keharuman tersendiri. Aroma ini tidak hanya menciptakan pengalaman berbelanja yang unik tetapi juga menjadi bagian dari daya tarik pasar itu sendiri.

Penggunaan bedak tradisional oleh pedagang perempuan di Pasar Apung Lok Baintan tidak hanya mengacu pada kecantikan fisik, tetapi juga pada nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal yang senantiasa dijaga dan diwariskan. Sehingga, setiap penjualan bukan hanya sekadar transaksi, tetapi juga menyiratkan keindahan dan keberkahan dari balik setiap produk yang dihadirkan. Hmmm... menarik bukan?

Menikmati indahnya suasana suungai tempat Pasar Apung Lok Baintan berada

Pasar Apung Lok Baintan adalah destinasi yang tidak hanya memanjakan mata dengan keindahan alam dan budaya, tetapi juga memberikan pandangan mendalam tentang peran perempuan dalam perekonomian lokal. Melalui keberlanjutan dan pelestarian warisan budaya, Pasar Apung Lok Baintan dapat terus menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang, menjaga keunikan dan keberlanjutan masyarakat pinggiran sungai Tabuk Banjar. Jika Anda mencari pengalaman yang menggabungkan petualangan, keindahan alam, dan kekayaan budaya, Pasar Apung Lok Baintan adalah destinasi yang tak boleh terlewatkan. (Laila)

Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka: Pilar Pendidikan Karakter Rahmatan lil ‘Alamin

"Menjadi Pramuka yang sejati bukan hanya sekedar menghafal Tri Satya dan Dasa Dharma, tetapi menghidupkannya sebagai jalan kekhalifahan...