Kamis, 22 Mei 2025

Skripsi yang Baik Tidak Lahir Sendiri: Catatan Kritis dari Ruang Ujian


Beberapa hari ini, saya kembali duduk di hadapan para mahasiswa tingkat akhir di ruang ujian skripsi. Saya dan beberapa dosen terjadwal untuk menguji skripsi para mahasiswa tingkat akhir tersebut. Beberapa dari mereka nampak gugup, cemas, gelisah, sembari membawa naskah skripsi yang telah mereka kerjakan berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan lamanya. Saya, dan tentunya dengan para penguji yang lain menyimak, menguji, dan memberi pertanyaan—tapi sebenarnya lebih dari itu, saya juga merenung.

Bagi sebagian mahasiswa, skripsi kerap kali dianggap sebagai sebuah “syarat terakhir” untuk mendapatkan gelar S1. Seolah skripsi hanya sebuah formalitas yang harus dilewati agar mereka bisa segera diwisuda. Namun sesungguhnya, skripsi adalah "wajah akhir" dari seluruh proses pendidikan akademik yang ditempuh oleh semua mahasiswa. Maka, dari sini, pertanyaan pentingnya adalah, "wajah seperti apa yang ingin kita tampilkan?"

Skripsi yang Baik Tidak Lahir Sendiri

Sejatinya, skripsi yang baik bukanlah hasil dari sebuah kebetulan. Skripsi yang baik juga tidak muncul dalam semalam seperti mie instan. Namun, skripsi yang baik adalah yang lahir dari sebuah proses yang panjang, dengan bimbingan yang intens, serius, dan juga penuh perhatian. Tanpa semua itu, maka skripsi hanya akan menjadi sebuah dokumen administratif yang akan segera dilupakan setelah sidang ujian skripsi selesai.

Maka, di sinilah letak pentingnya peran dari dosen pembimbing skripsi. Pembimbing skripsi bukan hanya sekedar bertugas untuk menandatangani lembar persetujuan ujian skripsi saja. Lebih dari itu, pembimbing skripsi adalah seorang mentor yang sejati—yang mampu mengarahkan, membimbing, mengingatkan, dan bahkan mendorong mahasiswa untuk terus berpikir, meneliti, dan menulis dengan serius. Artinya, skripsi yang keren hampir selalu dibelakangnya ada seorang pembimbing yang keren pula.

Namun, catatan pentingnya adalah bahwa pembimbing yang keren bukan berarti selalu memudahkan (dalam arti menyepelekan bimbingan). Pembimbing yang keren justru hadir sebagai mitra intelektual, yang menantang mahasiswa untuk mendalami literatur, memperbaiki logika analisis, dan juga memastikan bahwa arah keilmuan yang ia nampakkan dalam skripsinya tetap lurus sesuai dengan ruh kelimuan prodinya.

Krisis Judul dan Rasa Malas Akademik

Ada satu kegelisahan yang tak bisa saya sembunyikan sebenarnya. Judul-judul skripsi mahasiswa belakangan ini seringkali terasa begitu datar, repetitif, bahkan kehilangan semangat ilmiahnya. Banyak judul yang sebenarnya hanya memindahkan lokasi penelitian dari sekolah A ke sekolah B, tanpa adanya perubahan pendekatan, teori, atau bahkan persoalan yang digarap.

Contoh klasiknya bisa kita temukan dalam beberapa judul skripsi seperti:

“Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di MI X”
“Efektivitas Media Gambar dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di MIN Y”
“Peran Guru PAI dalam Menumbuhkan Akhlak Mulia Siswa di SMP Z”

Sebenarnya, judul-judul ini tidak salah. Namun, ketika puluhan mahasiswa mengulang format yang sama dengan hanya mengganti nama lembaganya saja inilah yang menunjukkan adanya fenomena baru, yakni "kelelahan intelektual" yang perlu untuk segera diatasi.

Sebagai alternatifnya, sebenarnya skripsi mahasiswa bisa diarahkan ke isu-isu kontemporer yang lebih menggugah dan relevan, seperti:

“Literasi Digital dalam Penguatan Moderasi Beragama Siswa Madrasah.... ” (PAI)
“Praktik Green Education di Sekolah Dasar.... : Perspektif Ekoteologi Islam” (PGMI)
“Kepemimpinan Transformasional Kepala Madrasah di Era Merdeka Belajar” (MPI)
“Integrasi Nilai Gender dalam Materi Ajar Akidah Akhlak di MTs.... ” (PAI)

Beberapa contoh judul yang seperti ini, tidak hanya menyegarkan, tetapi juga menantang para mahasiswa untuk melihat dunia pendidikan dalam konteks sosial, digital, ekologis, dan spiritual yang lebih luas lagi.

Kunci Ada di Dosen Pembimbing

Dalam proses menghasilkan skripsi yang baik, peran pembimbing sangatlah krusial. Pembimbing yang pasif, yang hanya sekedar memberikan komentar satu-dua baris, atau bahkan hanya menyerahkan pengerjaan dan revisi sepenuhnya kepada mahasiswa tanpa arah yang jelas, susah dicari oleh mahasiswa untuk proses bimbingan, dan hanya menandatangani lembar persetujuan ketika akan mendaftar ujian skripsi saja, sesungguhnya mereka sedang menyia-nyiakan momen emas pendidikan.

Namun sebaliknya, seorang pembimbing yang terlibat aktif, adalah pembimbing yang bukan hanya sekedar membantu mahasiswa dalam menyusun skripsinya saja. Tetapi, ia juga mendidik cara berpikir, membentuk kepekaan akademik, serta mengajarkan etika penelitian. Pembimbing yang seperti inilah yang mampu menjadi "fasilitator intelektual" bagi para mahasiswa bimbingannya, yang bisa membuka pintu-pintu pemahaman yang lebih baru.

Lebih jauh, pembimbing juga harus mampu menjaga agar skripsi para mahasiswa bimbingannya tetap berada dalam semangat keilmuan program studinya. Jangan sampai mahasiswa PAI terlalu larut dalam pendekatan psikologi murni tanpa integrasi nilai keislaman, atau mahasiswa MPI terjebak pada studi manajemen tanpa arah transformatif khas pendidikan Islam, dan lain sebagainya.

Menutup Sidang Skripsi, Membuka Kesadaran

Momen ujian skripsi bukanlah sebuah akhir. Momen ini adalah awal dari tanggung jawab intelektual para mahasiswa untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu, mari kita kembalikan lagi makna skripsi sebagai ruang pembelajaran yang sesungguhnya, bukan hanya sebuah formalitas akademik saja, tetapi menjadi ruang bagi tumbuhnya kesadaran, kepedulian, dan keberanian untuk berpikir kritis dan kreatif.

Dan tugas itu, sebagian besar adalah berada di tangan kita, yakni para dosen, pembimbing, dan pengelola pendidikan. Karena sejatinya skripsi yang baik, tidak pernah lahir sendiri. Skripsi yang baik adalah yang tumbuh dari relasi edukatif yang hangat antara mahasiswa dan pembimbingnya. 😊

Selasa, 20 Mei 2025

Refleksi Perkuliahan, Dari Legalitas ke Moralitas: Merenungkan Etika Immanuel Kant dalam Ibadah dan Kehidupan


Suatu sore yang cerah di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, tidak biasanya sore ini terasa begitu panas. Pasalnya, beberapa hari ini, di Tulungagung selalu hujan di sore hari. Sore ini (Selasa, 20 Mei 2025), saya memasuki ruang kelas PGMI 2-D untuk mengajar mata kuliah Filsafat Umum. Meski hari sudah sore — setelah mengikuti kegiatan upacara, menguji skripsi, menyeleksi administrasi proposal penelitian dari para dosen di aplikasi Litapdimas — mengajar harus tetap semangat.

Sore ini, saya mengajak mahasiswa menyelami pemikiran salah satu filsuf besar Eropa: Immanuel Kant. Materi hari ini adalah tentang Kritisisme Immanuel Kant, sebuah materi yang kerap dianggap sulit, rumit, bahkan cenderung membingungkan bagi mahasiswa semester awal di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). Namun, justru di dalam kerumitan itulah saya ingin menantang diri saya dan mahasiswa, "mari berpikir lebih dalam".

Seperti biasa, saya memulai perkuliahan dengan mengajak mahasiswa mengingat materi sebelumnya, dan mencoba menghubungkan dengan materi yang akan dipelajari hari ini. Dalam mengajar Filsafat, saya kerap kali menggunakan pendekatan contextual teaching and learning (CTL), pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pengaitan materi kuliah dengan konteks kehidupan nyata para mahasiswa. Tujuannya? tentu saja agar mereka lebih memahami materi filsafat, yang konon ditakuti mahasiswa FTIK. Selain takut karena sulit, juga takut menjadi kafir. He... he....

Dalam pembahasan materi tentang Kritisisme Immanuel Kant hari ini, ada salah satu sub bahasan yang cukup menarik, yakni Etika Immanuel Kant tentang "kehendak baik". Kant membedakan kehendak baik dalam dua jenis, yakni: legalitas dan moralitas. Secara sederhana, saya menjelaskan bahwa legalitas itu lebih mengarah kepada suatu tindakan baik yang dilakukan seseorang karena memiliki motif tertentu, yakni berbuat baik karena ada aturan yang mengatur tentang itu, atau ada sanksi jika tidak mengindahkan. Namun, hal ini berbeda dengan moralitas. Moralitas itu secara sederhana adalah berbuat baik karena memang ada dorongan dalam diri, semacam kesadaran bagi diri untuk berbuat kebaikan bukan karena embel-embel tertentu.

Saya mencoba menjelaskan dengan hati-hati, dan pelan-pelan, agar mereka bisa memahami. Tak lupa, metode tanya jawab juga menjadi metode yang wajib guna mengembangkan nalar kritis mereka, sebagaimana tuntutan pembelajaran abad 21. Saya rasa, dengan mengajak mereka bernalar kritis, dan berfikir reflektif, akan membuat mereka bisa memahami filsafat, sekaligus mengambil pelajaran baik yang ada di dalamnya untuk diterapkan dalam hidup.

Antara Takut Denda dan Kesadaran Ekologis

Untuk membuat mahasiswa lebih memahami, saya memberikan satu contoh yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, yakni terkait dengan membuang sampah.

Bayangkan, kita sedang berjalan di tepi sungai. Di situ terpampang jelas papan bertuliskan: “Dilarang membuang sampah di sungai. Denda Rp 1000.000.” Lalu kita pun menahan diri untuk tidak melempar sampah ke sungai. Apakah itu tindakan baik? Ya. Tapi, apakah tindakan itu mencerminkan moralitas? Belum tentu.

Menurut Kant, tindakan tersebut mencerminkan legalitas. Artinya, kita berbuat baik hanya karena ada hukum eksternal, ada imbalan atau ancaman. Kita melakukan sesuatu yang baik dengan tidak membuang sampah karena takut denda. Motifnya bukan karena sadar akan pentingnya menjaga ekosistem sungai, akan tetapi karena ingin menghindari hukuman.

Sebaliknya, jika seseorang tidak membuang sampah ke sungai tanpa perlu adanya himbauan atau denda, tetapi karena ia merasa bahwa lingkungan itu harus dijaga, sungai adalah sumber kehidupan, dan bumi adalah amanah Tuhan—maka itulah yang disebut moralitas. Tindakan tersebut berasal dari kesadaran internal, bukan dari tekanan eksternal.

Beribadah karena Takut atau karena Cinta?

Setelah menjelaskan perbedaan legalitas dan moralitas, saya lalu mengajak mahasiswa merenung lebih jauh. Saya katakan kepada mereka bahwa konsep ini bisa juga kita bawa ke dalam praktik keagamaan kita.

Kita sebagai seorang Muslim, menjalankan shalat lima waktu, puasa Ramadhan, membaca Al-Qur’an. Tapi, apa motif kita di balik semua itu?

Kerap kali, tanpa sadar, kita beribadah karena motif legalitas: karena takut dosa, takut neraka, ingin pahala, ingin surga. Ada janji dan ancaman. Ada hukum syariat yang mengatur. Apakah hal itu salah? Barangkali, ini wajar dan sering kita alami. Kita kerap kali menjalankan sesuatu yang baik karena ada embel-embel tertentu. Tapi, Kant mungkin akan bertanya, "apakah hal yang seperti itu benar-benar tindakan moral?"

Saya lalu menyampaikan gagasan ini kepada mahasiswa, "bagaimana kalau kita mencoba memaknai ibadah sebagai ekspresi dari kesadaran eksistensial? Kita beribadah bukan karena takut, bukan karena imbalan, tetapi karena kita mencintai Tuhan, karena kita merasa kecil dan bersyukur sebagai hamba-Nya, karena kita menyadari bahwa ibadah adalah cara kita menjaga hubungan dengan yang Transenden."

Inilah yang disebut "moralitas spiritual", yakni beribadah karena dorongan nurani, bukan karena ingin mendapatkan imbalan. Contohnya, kita tidak membuang sampah bukan karena takut didenda, tapi karena kita mencintai bumi. Begitu juga kita beribadah bukan karena takut siksa, tapi karena kita mencintai Tuhan.

Etika Kant: Jalan Menuju Otonomi Moral

Mengapa Immanuel Kant begitu menekankan pentingnya kehendak baik? Hal ini karena bagi Kant, hanya tindakan yang didorong oleh imperatif kategoris lah—yaitu prinsip moral yang berlaku secara universal dan lahir dari rasio murni manusia—yang bisa disebut sebagai tindakan yang benar-benar bermoral.

Imperatif kategoris Kant ini memiliki bentuk klasik, “Bertindaklah sedemikian rupa seolah-olah maksim dari tindakanmu dapat menjadi hukum universal.” Maknanya, kita harus bertindak dengan cara yang jika diuniversalkan, akan tetap benar dan pantas.

Misalnya, jika saya berpikir bahwa mencuri itu bisa dibenarkan saat saya butuh, maka saya juga harus bisa menerima juga tatkala suatu saat nanti semua orang juga akan mencuri saat mereka butuh. Jika hal ini terjadi, maka tidak akan ada lagi konsep tentang "milik pribadi". Oleh karena itu, mencuri menjadi tidak bisa diterima secara universal, dan karenanya dianggap tidak bermoral.

Kant menyebut orang yang mampu bertindak baik berdasarkan pada imperatif kategoris ini adalah sebagai orang yang memiliki "otonomi moral". Maknanya, dia tidak akan bisa dikendalikan oleh hukum luar, melainkan dia hanya bisa dikendalikan oleh hukum moral yang ada di dalam dirinya. Ia bertindak bukan karena takut atau karena diiming-imingi, tetapi karena ia sadar bahwa itu adalah hal yang benar.

Menjadi Manusia Bermoral di Era Hukum dan Sanksi

Saat ini, hampir setiap aspek kehidupan kita diatur oleh regulasi, undang-undang, kode etik, bahkan sanksi sosial. Semua itu memang sangat penting dan perlu. Tanpa aturan, maka akan terjadi kekacauan. Namun, jika kita merefleksi konsep yang ada pada etika Kant, sejatinya kita sedang diajak untuk  melangkah lebih jauh, yakni "bisakah kita tetap bertindak baik meski tidak ada kamera CCTV, tidak ada denda, tidak ada pahala?"

Inilah tantangan moralitas yang sejati.

Saya membayangkan, Kant seolah-olah berkata, "jangan hanya jadi manusia legal, jadilah manusia moral. Jangan hanya takut aturan, tapi tumbuhkan kesadaran etis. Jangan hanya berbuat baik karena dilihat orang, tapi berbuat baiklah karena kamu tahu bahwa itu adalah yang benar".

Refleksi Pendidikan: Dari Kepatuhan ke Kesadaran

Sebagai pendidik, saya merasa terpanggil untuk membawa semangat ini ke dalam ruang-ruang kelas. Bagi saya, pendidikan bukan hanya sekedar transfer ilmu, tetapi lebih pada sebuah proses transformasi kesadaran. Kita bukan hanya ingin mencetak mahasiswa yang taat aturan, tapi mahasiswa yang berkesadaran etis.

Oleh karena itu, saat kita mengajarkan pendidikan lingkungan kepada mereka, jangan hanya menanamkan mindset kepada mereka bahwa buang sampah sembarangan bisa kena denda. Tetapi, ajarkan pula bahwa bumi ini adalah titipan, dan menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah kita kepada Tuhan.

Begitu juga saat kita mengajarkan pendidikan agama kepada mereka, jangan hanya menekankan soal pahala dan siksa saja. Tetapi, ajarkan juga bahwa beribadah adalah bentuk cinta kita kepada Tuhan. Bahwa menjadi manusia yang baik, bukan karena demi surga, tetapi karena itulah hakikat menjadi manusia yang sejati.

Menuju Spiritualitas Otonom

Sebenarnya, jika dianalisis, terdapat irisan antara spiritualitas Islam dengan etika Kant. Dalam tasawuf misalnya, kita mengenal konsep maqamat atau tingkatan-tingkatan ruhani. Salah satu tingkatannya adalah mahabbah, yakni cinta kepada Tuhan.

Sebagaimana diketahui bahwa para sufi beribadah bukan karena takut akan neraka atau menginginkan surga. Tetapi karena mereka mencintai Tuhan. Mereka berkata, “Andaikan tidak ada neraka atau surga, kami tetap beribadah karena kami mencintai-Mu.”

Bukankah hal yang demikian ini sejalan dengan konsep moralitas Immanuel Kant? Bahwa tindakan baik yang sejati adalah yang lahir dari niat yang murni dan kesadaran batin.

Maka, dari sinilah mungkin kita bisa menemukan sebuah titik temu, antara filsafat Barat dengan spiritualitas Timur, antara Kant dengan Rabi’ah al-Adawiyah, dan antara reason dengan love. Bukan begitu?

Mendidik Nurani, Menemukan Kemanusiaan

Perkuliahan sore ini ditutup dengan refleksi tentang konsep ini dalam kehidupan sehari-hari. Perkuliahan sore ini tak lagi bicara soal Kant sebagai sekedar seorang filsuf Eropa abad ke-18. Tetapi menyadari bahwa sejatinya filsafat bukan sekedar teori abstrak, melainkan cermin untuk memahami kehidupan sehari-hari, bahkan ibadah kita.

Saya meyakini bahwa pendidikan akan berhasil bukan ketika mahasiswa bisa menghafal definisi dari “imperatif kategoris,” tetapi ketika mereka bisa berkata: “Saya tidak buang sampah karena saya mencintai bumi. Saya shalat bukan karena takut neraka, tapi karena saya mencintai Tuhan.”

Jika hal ini tercapai, maka saya yakin bahwa kita sudah mendekati apa yang disebut Kant sebagai "manusia bermoral", dan dalam bahasa kita disebut sebagai "manusia yang bertakwa adalah bukan karena takut, tapi karena cinta." 😊


Selasa, 13 Mei 2025

Qaddukal Mayyas: Mencintai Tuhan Lewat Bahasa Tubuh

"Selama ini, dalam pandangan filsafat dualisme klasik (Plato dan Plotinus), kerap kali menganggap tubuh sebagai beban spiritual. Tubuh dianggap sebagai penjara jiwa (soma sema). Tidak hanya itu, dalam teologi klasik patriarkal (Islam dan Kristen Abad Pertengahan), tubuh sering diasosiasikan dengan hawa nafsu. Oleh karena itu, harus ditaklukkan. Padahal, dalam Islam, jika dikaji secara mendalam, tubuh bukan lawan dari jiwa, tapi wadahnya. Tubuh adalah perantara bagi manusia untuk beribadah, mencinta, dan juga merenung. Bahkan, di dalam tasawuf, gerakan tubuh bisa menjadi bentuk zikir, sebagaimana dalam tarian para darwish."

Lagu Qaddukal Mayyas bukanlah shalawat, melainkan sebuah lagu pujian bernuansa cinta yang berasal dari tradisi musik Arab, khususnya dari kawasan Syam (Suriah, Palestina, Lebanon). Lagu ini populer dalam genre muwashshahat, yaitu bentuk puisi dan musik klasik Arab yang berkembang sejak masa Andalusia.

Secara harfiah, judul “Qaddukal Mayyās” berarti “tubuhmu yang berlenggok indah” atau “sosokmu yang anggun seperti ranting lentur”. Lagu ini adalah puisi cinta yang menggambarkan kekaguman luar biasa terhadap keindahan seorang kekasih, baik dari segi fisik maupun pesona gerak-geriknya. Jika diamati, kalimat-kalimat dalam lagu ini sangat metaforis dan penuh dengan simbolisme estetis.

Meski tidak dikategorikan sebagai shalawat, tetapi lagu ini bisa dianalisis dengan pendekatan filosofis-sufistik. Tidak hanya itu, pendekatan teologis feminis dan fenomenologi tubuh ala Maurice Merleau-Ponty pun bisa dikombinasikan untuk membedah makna dari lagu ini.

Sekilas, lagu ini terdengar seperti lagu cinta biasa yang penuh kelembutan, rayuan, dan nuansa sensual. Namun, bagi jiwa-jiwa para pencinta, makna cinta di sini melampaui aspek fisik dan daya tarik lahiriah. Bagi mereka, cinta adalah jalan, yakni sebuah proses untuk menemukan, mengenal, dan akhirnya larut dalam Yang Dicintai, yaitu Tuhan itu sendiri.

Dalam pandangan sufistik, cinta antar manusia merupakan gerbang menuju cinta Ilahi. Perasaan kita terhadap kekasih, bisa menjadi petunjuk bahwa sejatinya kita sedang dipanggil untuk merindukan sesuatu yang lebih tinggi dan agung. Gerak tubuh yang anggun, sorot mata yang memikat, serta suara yang menggoda adalah tanda, yakni ayat-ayat yang mengisyaratkan keindahan dari Sang Maha Pencipta.

Tubuh dan Spiritualitas dalam Islam

Selama ini, dalam pandangan filsafat dualisme klasik (Plato dan Plotinus), kerap kali menganggap tubuh sebagai beban spiritual. Tubuh dianggap sebagai penjara jiwa (soma sema). Tidak hanya itu, dalam teologi klasik patriarkal (Islam dan Kristen Abad Pertengahan), tubuh sering diasosiasikan dengan hawa nafsu. Oleh karena itu, harus ditaklukkan.

Padahal, dalam Islam, jika dikaji secara mendalam, tubuh bukan lawan dari jiwa, tapi wadahnya. Tubuh adalah perantara bagi manusia untuk beribadah, mencinta, dan juga merenung. Bahkan, di dalam tasawuf, gerakan tubuh bisa menjadi bentuk zikir, sebagaimana dalam tarian para darwish.

Dalam perspektif spiritualitas Islam, lagu ini dipandang sebagai puisi tubuh yang mengandung pesan ruhani. Gerak tubuh si kekasih tidak hanya menggoda secara lahiriah, tetapi juga mengetuk kesadaran yang terdalam, bahwa ada sesuatu yang lebih besar, yang lebih indah, dan yang sedang menampakkan Diri melalui bentuk-bentuk yang kita lihat.

Cinta yang Membebaskan, Bukan Menguasai

Dalam pandangan Islam yang menjunjung tinggi keadilan, cinta bukanlah soal memiliki tubuh orang lain. Cinta juga bukan tentang menguasai, tapi tentang ta’aruf, yakni proses saling mengenal secara tulus.

Dalam lagu ini, kekaguman pada sang kekasih tidak berujung pada keinginan untuk mengendalikan atau menaklukkan. Justru sebaliknya, sang pencintalah yang tersentuh, tak berdaya, dan terdiam dalam kekaguman. Inilah cinta yang beretika, yakni cinta yang memandang dan memperlakukan kekasih sebagai pribadi yang utuh (subjek penuh, meminjam istilah Bu Nyai Nur Rofi'ah), bukan hanya sekedar objek semata.

Di ruang-ruang spiritualitas yang adil dan setara, cinta yang semacam ini perlu dirawat. Mengapa demikian? Karena tubuh perempuan—atau siapa pun—bisa dipuji tanpa harus dilecehkan, bisa dikagumi tanpa direndahkan, dan bahkan bisa menjadi jalan untuk mendekat kepada Tuhan, bukan malah menjauh dari-Nya.

Tuhan dalam Tatapan Kekasih (Sufi)

Para penyair sufi kerap kali berkata bahwa mereka merasakan kehadiran Tuhan dalam tatapan sang kekasih. Hal ini bukan karena mereka memuja manusia, melainkan karena mereka memahami bahwa segala keindahan di dunia ini hanyalah bayangan dari Keindahan yang Hakiki. Dalam hal ini, mata kekasih menjadi cermin, yakni tempat Tuhan hadir secara diam-diam, menyapa dengan kelembutan yang nyaris tak terdengar.

Lagu ini, bila didengarkan dengan hati yang hening, bisa menjadi semacam dzikir yang menggetarkan sisi terdalam dari kerinduan manusia pada sesuatu yang transenden. Dalam dunia yang penuh dengan luka dan kebisingan ini, cinta seperti ini merupakan sebuah anugerah, yakni cinta yang lembut, membebaskan, dan menuntun pulang.

Ketika Lagu Menjadi Doa

Dalam ruang spiritual yang inklusif dan setara, lagu seperti Qaddukal Mayyas ini bukan hanya sekedar hiburan semata. Tetapi juga undangan untuk merenung.

Lagu ini mengingatkan kita bahwa tubuh, cinta, dan keindahan bukanlah hal yang terpisah dari spiritualitas, melainkan bagian utuh darinya. Menjalani kemanusiaan kita dengan sepenuhnya, yakni dengan rasa rindu, kekaguman, dan cinta, juga merupakan langkah menuju Tuhan.

Karena sesungguhnya, seperti kata Rabi’ah al-Adawiyah:

"Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka, atau karena ingin surga. Aku menyembah-Mu karena Engkau layak dicinta."

Dan lagu ini, bisa jadi, adalah bentuk cinta yang paling jujur, yakni ketika tubuh, kata, dan jiwa melebur menjadi satu dalam nyanyian rindu kepada Yang Maha Cinta.

Senin, 07 April 2025

DARI SILATURAHMI KE SILATURILMIYAH: LEBARAN, RELASI, DAN RENUNGAN PENELITI-PENGABDI

 DARI SILATURAHMI KE SILATURILMIYAH:

LEBARAN, RELASI, DAN RENUNGAN PENELITI-PENGABDI


Setiap kali pulang lebaran ke kampung halaman, ada satu momen yang tak pernah gagal mengetuk kesadaran saya. Saat duduk di beranda rumah orang tua, ditemani suara takbir dari surau kecil di tengah gang kampung dan masjid-masjid sekitar, saya sering terdiam lama dan merenung. Bukan karena lelah perjalanan, tapi karena ada sesuatu yang lebih dalam yang hadir dalam diri, yakni "rasa pulang".

Bagi saya, pulang tidak hanya sekedar ritual kembali ke rumah, tetapi juga ruang batin tempat kita mengeja ulang makna dari apa yang selama ini kita jalani. Termasuk pekerjaan yang setiap hari  saya jalani, baik sebagai Kepala Pusat Penelitian di LP2M, maupun sebagai peneliti sekaligus dosen.

Lebaran selalu membawa kita kembali pada akar, yakni: rumah, keluarga, dan kenangan. Namun, bagi kami para peneliti, lebaran juga mengingatkan pada makna kembali dalam dimensi yang lebih luas, yakni kembali pada niat awal, pada pertanyaan-pertanyaan dasar, pada relasi-relasi yang selama ini menopang kerja intelektual kita.

Pada momen lebaran, di antara obrolan hangat bersama tetangga, sapaan akrab dari para sepupu, hingga senyum malu-malu anak kecil yang saya temui di jalan kampung, membawa saya pada sebuah kesadaran bahawa sejatinya riset dan pengabdian tidak hanya tentang jurnal, angka sitasi, atau proposal hibah penelitian dan pengabdian. Tetapi tentang manusia. Tentang bagaimana ilmu bisa menjadi jembatan—bukan tembok—bagi mereka yang mungkin tak pernah duduk di ruang seminar atau membaca paper akademik.

Jika dikaitkan dengan momen lebaran, riset dan pengabdian sejatinya bukan hanya produk akademik, melainkan jalinan silaturahmi pengetahuan dengan masyarakat, dengan sumber-sumber kebijaksanaan, dan dengan sesama peneliti lintas disiplin. Riset lahir dari kegelisahan, tumbuh dari kolaborasi, dan bermuara pada kemaslahatan dengan menjadikan hasil riset sebagai basis pengabdian.

Seperti halnya lebaran yang meneguhkan kembali relasi sosial dan emosional, penelitian pun perlu senantiasa ditopang oleh etika keterhubungan, seperti: empati pada subjek penelitian, keterbukaan dalam dialog metodologis, serta tanggung jawab sosial terhadap dampak dari hasil riset kita.

Pada momen lebaran ini, saya belajar lagi bahwa kerja penelitian dan pengabdian sejatinya adalah kerja silaturahmi. Menghubungkan gagasan dengan kebutuhan masyarakat. Mengurai masalah dengan empati. Dan menghadirkan ilmu yang membumi, yang bisa dirasakan manfaatnya di ruang-ruang paling sederhana, seperti: di surau, di toko, di lumbung, di ruang tamu rumah-rumah kecil yang penuh harapan.

Lebaran membuat saya sadar, bahwa penelitian dan pengabdian bukan hanya semata urusan institusi, tetapi urusan hati dan relasi. Hasil penelitian dan pengabdian harus berpulang kepada masyarakat—kepada suara-suara kecil yang kerap tak terdengar di ruang akademik. Di sanalah tempat sejati ilmu menemukan wajahnya yang paling manusiawi.

Lebaran mengajarkan kepada saya bahwa sejatinya pulang adalah bagian penting dari perjalanan intelektual. Tanpa pulang, kita mungkin lupa untuk apa dan untuk siapa ilmu ini diperjuangkan.

Di tengah suasana lebaran yang hangat ini, saya mengajak rekan-rekan peneliti dan pengabdi untuk merayakan lebaran, yang tidak hanya sebagai kemenangan spiritual, tapi juga sebagai momen memperbarui komitmen kita terhadap kebermanfaatan ilmu. Mungkin inilah saatnya kita bertanya, "kepada siapa ilmu ini kita tujukan? Sudahkah hasilnya menjangkau mereka yang terpinggirkan? Sudahkah hasil riset dan pengabdian kita menjadi jembatan, bukan sekedar menara gading?"

Mari, jadikan pulang tidak hanya sekedar tradisi tahunan yang tanpa makna, tapi juga kesadaran epistemik—bahwa kita perlu terus kembali, menyapa realitas, dan menyulam pengetahuan dari denyut kehidupan yang nyata. Semoga silaturahmi kita menjadi silaturilmiyah yang berkelanjutan, dari desa ke kampus, dari masyarakat ke manuskrip, dari suara-suara kecil ke kebijakan besar.


Selamat Idulfitri 1446 H
Taqabbalallahu minna wa minkum


Salam Hangat,

Lailatuzz Zuhriyah

Kepala Pusat Penelitian LP2M UIN SATU Tulungagung
Sekretaris Forum Kapuslit PTKIN



Rabu, 27 November 2024

TELAAH FILOSOFIS-TEOLOGIS LAGU "LANGGENG DAYANING RASA" KARYA DENNY CAK NAN



Bagi saya, lagu "Langgeng Dayaning Rasa" karya Denny Cak Nan mengandung makna mendalam yang membuka ruang interpretasi, tidak hanya dari sisi romantis tetapi juga dari perspektif filosofis-teologis. Secara filosofis, lagu ini menggambarkan rasa rindu sebagai fenomena eksistensial yang tidak hanya mengacu pada hubungan antar-manusia tetapi juga pada hubungan transendental dengan Tuhan.

Dalam pandangan filsafat eksistensialis, manusia adalah makhluk yang selalu mencari makna. Perasaan rindu yang digambarkan dalam lagu ini bisa diartikan sebagai pencarian akan sesuatu yang absolut, yakni Tuhan. Rindu adalah "kehendak untuk yang kekal," seperti diungkapkan oleh Søren Kierkegaard yang menyebut bahwa rindu adalah panggilan terdalam jiwa kepada Pencipta.

Sementara itu, dalam perspektif budaya Jawa, rasa sering kali dihubungkan dengan manunggaling kawula lan Gusti (kesatuan hamba dengan Tuhan). Lagu ini mencerminkan kerinduan batin untuk mendekat kepada Sang Sumber Segala Cinta.

Dari sisi teologis, lagu ini bisa dipahami sebagai pengakuan akan keberadaan Tuhan sebagai yang paling memahami manusia. Ada 2 nilai yang terkandung, yakni teologi kasih dan kerinduan Ilahi. 

Dalam Teologi Kasih, Tuhan digambarkan sebagai yang memahami segala rasa, termasuk rindu. Dalam banyak tradisi agama, rindu kepada Tuhan adalah bentuk tertinggi dari ibadah. Lagu ini menggambarkan bahwa hanya Tuhan yang mampu memahami kedalaman hati manusia, sebagaimana dalam tradisi Islam disebutkan, "Allah lebih dekat daripada urat nadi" (QS. Qaf:16).

Sementara itu, nilai kerinduan Ilahi nampak dalam tradisi sufisme, konsep kerinduan kepada Tuhan (syauq) menjadi inti dari perjalanan spiritual. Lagu ini seakan-akan menempatkan kerinduan sebagai medium untuk menyatu dengan Tuhan. Liriknya mencerminkan kesadaran manusia tentang ketidakmampuannya menemukan kedamaian sejati kecuali dalam Tuhan.

Frasa langgeng dayaning rasa mengandung filosofi mendalam. kata "Langgeng" mengacu pada sesuatu yang kekal, melampaui dunia material. Kekekalan ini bisa dilihat sebagai kerinduan kepada Tuhan, yang dalam teologi adalah Yang Maha Kekal (Al-Baqa').

Sementara itu, istilah "Dayaning Rasa" merujuk pada kekuatan batin yang menjadi jalan manusia untuk mencapai maqam spiritual. Dalam filsafat Islam, rasa adalah instrumen penting dalam ma'rifatullah (pengenalan kepada Tuhan). Lagu ini mengajarkan bahwa rasa, bila diselaraskan dengan kehendak Tuhan, akan menjadi kekuatan yang mendekatkan manusia kepada-Nya.

Lagu ini mengekpresikan kerinduan yang Transenden dalam hubungan antara makhluk dan Khaliknya. Dalam hal ini, cinta sebagai medium Ketuhanan. Jalaluddin Rumi menggambarkan cinta sebagai jembatan antara makhluk dengan Sang Khalik. Lagu ini menggambarkan bahwa cinta sejati yang hakiki hanyalah kepada Tuhan, karena hanya Dia yang benar-benar memahami dan menerima manusia apa adanya.

Lagu ini juga mengekspresikan Tuhan sebagai pelipur lara. Liriknya menegaskan bahwa hanya Tuhan yang benar-benar memahami luka, kebahagiaan, dan kerinduan manusia. Pengakuan ini menjadi bentuk teologi pengharapan (hope theology), yakni manusia mempercayakan dirinya kepada Tuhan yang Maha Mengetahui.

Lagu ini nampaknya juga menunjukkan adanya harmoni antara budaya Jawa yang kaya dengan unsur mistisisme dan spiritualitas Islam. Dalam Kejawen, perasaan rindu sering kali dikaitkan dengan perjalanan menuju harmoni batin dan hubungan langsung dengan Tuhan. Lagu ini mencerminkan filsafat sangkan paraning dumadi (kembali kepada asal mula penciptaan). Sementara itu, aspek teologisnya bisa dikaitkan dengan tawakkal (kepasrahan) dan ikhlas (ketulusan), di mana manusia menyerahkan segala rasa kepada Tuhan.

Lagu ini mengingatkan pendengarnya untuk merefleksikan hubungan mereka dengan Tuhan melalui medium rasa. Secara praktis, lagu ini bisa menjadi sarana kontemplasi, mengingatkan bahwa cinta duniawi hanyalah bayangan cinta ilahi. Dalam perspektif ini, rindu menjadi sarana introspeksi, mengarahkan manusia kepada makna hakiki kehidupan. Lagu ini juga mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah satu-satunya tujuan akhir, di mana segala rasa menemukan kedamaian.

Dari telaah filosofis-teologis di atas, pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa "Langgeng Dayaning Rasa" melampaui sekedar lagu cinta. Dengan penafsiran filosofis-teologis, lagu ini menjadi refleksi tentang rindu manusia kepada Tuhan, yang menggambarkan hubungan mendalam antara makhluk dan Khalik. Lagu ini mengajarkan bahwa Tuhan adalah tempat kembali segala rasa, dan hanya Dia yang memahami manusia secara sempurna. Dengan demikian, karya Denny Cak Nan ini tidak hanya indah secara estetis tetapi juga kaya akan makna spiritual dan filosofis. (LZ)

Selasa, 26 November 2024

 

TELAAH ATAS SHALAWAT ILAHI TAMMIMI: DARI DIMENSI TEOLOGIS, ETIS, EKSISTENSIAL, HINGGA KOSMOLOGIS



Shalawat "Ilahi tammimmin na'ma 'alaina" secara harfiah berarti "Ya Allah, sempurnakan nikmat-Mu atas kami!" Secara filosofis, frasa ini memiliki makna mendalam dalam konteks spiritualitas Islam, meliputi dimensi teologis, etis, eksistensial, dan kosmologis.

DIMENSI TEOLOGIS

1. Pengakuan terhadap ke-Maha-an Allah

Ucapan ini menegaskan keyakinan bahwa segala nikmat berasal dari Allah sebagai sumber absolut dari segala kebaikan. Dalam teologi Islam, nikmat Allah meliputi aspek material dan spiritual, seperti iman, kesehatan, ilmu, dan ketenangan jiwa.

2. Doa untuk kesempurnaan nikmat: Permohonan agar nikmat yang telah diberikan Allah disempurnakan mencerminkan pengharapan manusia akan rahmat Allah yang terus berlanjut. Ini juga menunjukkan sikap tawakal dan percaya bahwa kesempurnaan hanya dapat dicapai dengan kehendak-Nya.

DIMENSI ETIS

1. Kesadaran akan karunia
Shalawat ini mengajarkan rasa syukur yang mendalam terhadap nikmat yang telah diberikan. Dalam tradisi Islam, syukur adalah nilai moral yang utama, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'an: "Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu" (QS. Ibrahim: 7).

2. Tanggung jawab moral
Dengan meminta kesempurnaan nikmat, implikasinya adalah individu juga bertanggung jawab menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan, sesuai dengan prinsip amanah dalam Islam.

DIMENSI EKSISTENSIAL

1. Pencarian kesempurnaan hidup
Shalawat ini mencerminkan kesadaran manusia akan ketidaksempurnaannya dan keinginannya untuk terus berusaha menuju kondisi ideal dalam hidup. Hal ini sejalan dengan pandangan filsafat Islam yang menekankan tahdzib an-nafs (penyucian jiwa) dan kamal insani (kesempurnaan manusiawi).

2. Relasi dengan transendensi
Permohonan ini menunjukkan bahwa manusia tidak bisa mencapai kesempurnaan tanpa hubungan dengan yang transenden, yaitu Allah. Dalam filsafat tasawuf, ini disebut sebagai fana' fi Allah (melebur dalam kehendak Allah) sebagai bentuk pengakuan ketergantungan total kepada-Nya.

DIMENSI KOSMOLOGIS

Harmoni dengan alam semesta
Permohonan kesempurnaan nikmat juga dapat diartikan sebagai doa agar manusia hidup selaras dengan tatanan ilahi di alam semesta (tanzim ilahi). Nikmat Allah bukan hanya untuk individu, tetapi juga terkait dengan keseimbangan makro kosmos yang mencakup kehidupan sosial, ekosistem, dan keberlanjutan dunia.

Shalawat ini, meskipun sederhana dalam susunan kata, namun membawa makna filosofis yang mendalam, yakni sebuah pengakuan akan keagungan Allah, kesadaran etis terhadap nikmat, dan pencarian eksistensial untuk mencapai kesempurnaan hidup dalam harmoni dengan kehendak Ilahi. Bagi seorang Muslim, mengucapkan shalawat ini adalah refleksi atas hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan manusia dan alam), sekaligus ekspresi pengabdian total kepada-Nya.

Minggu, 24 November 2024

LAMPUNG DALAM BINGKAI MUSEUM: REFLEKSI BUDAYA DAN KEHIDUPAN


Halaman Utama Museum Lampung


Hari itu, 20 November 2024, udara Bandar Lampung terasa hangat dengan semilir angin pagi yang membawa semangat baru. Tujuan perjalanan saya adalah Museum Lampung, sebuah tempat yang tak hanya menjadi pusat dokumentasi sejarah, tetapi juga ruang untuk merefleksikan nilai-nilai budaya dan kehidupan masyarakat Lampung. Museum ini juga dikenal sebagai Museum Ruwa Jurai. Sebuah museum yang menjadi titik temu antara masa lalu dan masa kini, memperlihatkan betapa kaya dan dalamnya identitas budaya Lampung.

Begitu tiba di halaman museum, saya langsung terpesona oleh arsitektur bangunannya. Atap museum yang terinspirasi dari bentuk rumah adat Nuwo Sesat, dihiasi ornamen tradisional, memancarkan kesan otentik yang kuat. Halaman yang luas dan rindang membuat suasana menjadi nyaman, seolah mempersiapkan pengunjung untuk perjalanan waktu ke masa lalu.

Museum Lampung buka setiap hari , dengan jam operasional dari pukul 08.00 hingga 14.00 WIB. Adapun harga tiket masuk museum yaitu sebesar Rp5.000 untuk dewasa, Rp1.000 untuk anak-anak, dan Rp2.000 untuk mahasiswa. Cara masuknya pun sederhana, cukup membeli tiket di loket depan dan menyerahkan tiket kepada petugas di pintu masuk. Saat mulai memasuki pintu utama museum, saya disambut ramah oleh petugas museum. Mereka mengarahkan untuk mendaftar dan membeli tiket terlebih dahulu, kemudian memberikan buku kecil yang berisi peta sederhana yang menunjukkan tata letak ruang pameran dan koleksi. Panduan ini memudahkan saya untuk menjelajahi museum dengan alur cerita yang teratur.

Kain Tapis: Menyibak Kekayaan Tradisi


Kain Tapis Lampung

Ruang pertama yang saya masuki adalah pameran kain Tapis, kain tradisional kebanggaan Lampung. Saya terpukau dengan keindahan kain yang penuh dengan benang emas, melambangkan status sosial dan spiritual masyarakat Lampung. Proses pembuatan Tapis bukan sekedar keterampilan, melainkan juga bentuk meditasi—proses panjangnya mencerminkan kesabaran dan dedikasi perempuan Lampung.


Selain Tapis, terdapat juga pakaian adat lengkap dengan aksesorisnya. Setiap elemen pakaian memiliki simbolisme, seperti mahkota yang melambangkan kebijaksanaan dan ornamen emas sebagai lambang kemakmuran. Melihat koleksi ini membuat saya merenungkan betapa eratnya hubungan masyarakat Lampung dengan nilai-nilai spiritual dan estetika.

Ruang Kehidupan: Mengenal Sejarah Lampau


Beberapa artefak yang terpampang di ruang koleksi

Di ruang lain, saya menemukan koleksi artefak prasejarah seperti kapak batu, gerabah, dan replika peralatan berburu. Artefak ini memberikan gambaran kehidupan manusia purba yang pernah mendiami Lampung. Di sini, saya belajar bagaimana masyarakat Lampung berkembang dari era berburu hingga bercocok tanam, sebuah proses yang merefleksikan daya adaptasi dan kreativitas manusia dalam menghadapi alam.

Koleksi senjata khas Lampung

Lebih jauh, terdapat koleksi senjata tradisional seperti keris dan tombak, yang menjadi simbol keberanian masyarakat Lampung dalam melindungi komunitasnya. Filosofi senjata ini tidak hanya berbicara tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang keberanian moral dan tanggung jawab.

Rumah Adat Nuwo Sesat: Sebuah Refleksi Sejarah


Rumah Adat Nuwo Sesat

Salah satu koleksi favorit saya adalah replika Nuwo Sesat, rumah adat Lampung. Nuwo Sesat merupakan simbol kebersamaan dan musyawarah, tempat masyarakat berkumpul untuk memecahkan masalah secara kolektif. Konsep rumah panggung ini juga mencerminkan keharmonisan dengan alam—dengan struktur yang mengurangi risiko dari banjir dan melindungi penghuni dari binatang liar.

Masuk ke dalam replika ini, saya seolah dibawa ke zaman di mana masyarakat Lampung hidup berdampingan dalam harmoni, saling membantu dan menjunjung nilai gotong royong. Tempat ini mengingatkan saya akan pentingnya kebersamaan di tengah individualisme yang kerap kita temui di zaman modern.

Naskah Kuno dan Makna Literasi


Koleksi Naskah Kuno

Ketika langkah kaki saya memasuki ruang terakhir Museum Lampung, saya menemukan sesuatu yang luar biasa—deretan naskah kuno yang berusia ratusan tahun. Di balik lemari kaca yang elegan, terpampang naskah-naskah beraksara Lampung, aksara yang kini mulai jarang digunakan, namun pernah menjadi bagian penting dari peradaban masyarakat setempat. Keberadaan naskah-naskah ini seperti bisikan dari masa lalu, mengingatkan kita akan kejayaan literasi di Lampung yang mungkin selama ini tak banyak diketahui oleh khalayak luas.

Naskah-naskah yang tersimpan di museum ini terbuat dari berbagai medium tradisional, mulai dari kulit kayu hingga daun lontar. Tulisan-tulisan dalam aksara Lampung diukir dengan alat-alat sederhana, namun hasilnya mencerminkan keindahan seni tulis yang menuntut ketelitian luar biasa. Beberapa naskah berisi hukum adat, seperti tata cara penyelesaian konflik antarwarga atau panduan menjalankan ritual keagamaan. Naskah lainnya memuat kisah-kisah legenda dan cerita rakyat yang kaya akan nilai-nilai moral, seperti tentang pentingnya menjaga keharmonisan dengan alam dan sesama manusia.

Ada pula naskah berbentuk puisi atau syair, yang disebut "Pitam Tuha" (kata-kata bijak orang tua). Naskah-naskah ini biasanya berisi petuah kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu kutipan yang menarik perhatian saya berbunyi:

"Hiya bumi nenggik kekek, hiya adat nenggik pepadun"
(Tanah akan tetap di tempatnya, dan adat akan tetap menjadi tiang penopang).

Kalimat ini mencerminkan filosofi bahwa adat dan tradisi adalah akar kehidupan masyarakat Lampung, yang harus dijaga dengan penuh penghormatan seperti menjaga bumi yang kita tinggali.

Saat saya berdiri di depan salah satu naskah yang tertulis di atas daun lontar, saya merasa seolah-olah para leluhur sedang berbicara kepada saya melalui kata-kata mereka. Ada semacam energi spiritual yang terpancar, mengingatkan bahwa setiap huruf yang mereka ukir mengandung doa, harapan, dan keinginan untuk membangun masyarakat yang lebih baik.

Perasaan haru muncul ketika saya menyadari bahwa literasi tradisional ini pernah menjadi fondasi kehidupan masyarakat Lampung. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, naskah-naskah ini adalah pengingat bahwa di balik segala kemajuan teknologi, ada nilai-nilai kemanusiaan yang tidak boleh kita lupakan.

Melihat naskah-naskah ini, saya mulai merenungkan peran literasi dalam budaya Lampung pada masa lampau. Berbeda dengan literasi modern yang sering kali berbasis pada buku cetak dan teknologi, literasi dalam tradisi Lampung memiliki dimensi yang lebih mendalam. Literasi bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga alat untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai luhur.

Literasi menjadi media komunikasi antar-generasi. Naskah-naskah ini adalah jembatan yang menghubungkan para leluhur dengan generasi masa kini, menyampaikan pesan moral, sejarah, dan petunjuk kehidupan yang tetap relevan hingga hari ini. Dalam konteks ini, literasi tidak hanya mencerdaskan secara intelektual, tetapi juga membangun karakter dan spiritualitas.

Namun, di balik keindahan ini, ada sisi yang menyedihkan. Beberapa naskah tampak rapuh, warnanya memudar seiring berjalannya waktu. Berbagai upaya pelestarian telah dilakukan oleh Museum Lampung dan para peneliti. Salah satunya adalah digitalisasi naskah-naskah kuno ini, sehingga salinan elektroniknya dapat diakses oleh peneliti maupun masyarakat umum. Selain itu, museum juga mengadakan program edukasi, seperti kelas aksara Lampung dan lokakarya penulisan tradisional, untuk menghidupkan kembali minat generasi muda terhadap warisan ini.

Apa yang dapat kita pelajari dari keberadaan naskah kuno ini? Salah satu pesan pentingnya adalah pentingnya menjaga warisan literasi sebagai identitas budaya. Di tengah arus globalisasi yang kerap menyeragamkan cara hidup, naskah-naskah ini mengingatkan kita untuk tetap berakar pada tradisi lokal.

Naskah-naskah ini juga mengajarkan bahwa literasi adalah alat transformasi. Pada masa lalu, literasi tidak hanya digunakan untuk mencatat hukum adat atau legenda, tetapi juga untuk menegakkan keadilan, menyebarkan ilmu pengetahuan, dan mempererat hubungan sosial dalam komunitas. Maka, tugas kita hari ini adalah melanjutkan tradisi ini, dengan cara yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Koleksi naskah kuno di Museum Lampung adalah harta karun yang tak ternilai harganya. Mereka bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga cermin budaya yang menunjukkan identitas, kebijaksanaan, dan nilai-nilai luhur masyarakat Lampung.

Perjalanan saya ke Museum Lampung tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membangkitkan kesadaran tentang pentingnya literasi sebagai alat untuk menjaga kesinambungan budaya. Di balik setiap huruf dalam naskah-naskah ini, ada pesan abadi: bahwa sejauh apa pun kita melangkah ke depan, kita tidak boleh melupakan akar kita. Sebab, akar itulah yang akan memberikan kita kekuatan untuk bertumbuh. (LZ)


Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka: Pilar Pendidikan Karakter Rahmatan lil ‘Alamin

"Menjadi Pramuka yang sejati bukan hanya sekedar menghafal Tri Satya dan Dasa Dharma, tetapi menghidupkannya sebagai jalan kekhalifahan...