Kamis, 31 Mei 2012

MAQAMAT DAN AHWAL DALAM KERANGKA BERPIKIR ’IRFANI

MAQAMAT DAN AHWAL
DALAM KERANGKA BERPIKIR ’IRFANI

Oleh : Lailatuz Zuhriyah, S.Th.I. M.Fil.I



BAB I
PENDAHULUAN


Para sufi dalam berbagai aliran yang dianutnya, memiliki suatu konsepsi tentang jalan (t}ari>qat) menuju Allah. Jalan ini dimulai dengan latihan-latihan rohaniyah (ar-riya>dhah), lalu secara bertahap menempuh berbagai fase, yang dikenal dengan maqa>m (tingkatan) dan hal (keadaan), dan berakhir dengan mengenal (ma’rifat) kepada Allah. Tingkat pengenalan (ma’rifat) menjadi jargon yang umumnya banyak dikejar oleh para sufi. Kerangka sikap dan perilaku sufi diwujudkan melalui amalan dan metode tertentu yang disebut t}ari>qat atau jalan untuk menemukan pengenalan (ma’rifat) Allah. Lingkup perjalanan menuju Allah untuk memperoleh pengenalan (ma’rifat) yang berlaku dikalangan sufi sering disebut sebagai sebuah metode ’Irfani.
T{ari>qat yang dimaksud di sini bukan t}ari>qat dalam pengertian tarekat dalam bahasa Indonesia, (pemahaman dalam bahasa Indonesia, tarekat berarti jalan para sufi yang sudah melembaga atau berbentuk institusi-institusi yang kita kenal, misalnya: Tarekat Naqsabandiyah, Tijaniyah dan sebagainya), tetapi t}ari>qat yang dimaksud di sini adalah t}ari>qat yang belum menjadi sebuah institusi, tetapi baru hanya berupa pendekatan-pendekatan ruhaniyah.
Lingkup ’Irfani tidak dapat dicapai dengan mudah atau secara spontanitas, tetapi melalui proses yang panjang.proses yang dimaksud adalah maqa>m-maqa>m (tingkatan atau stasiun) dan ahwa>l (jama’ dari hal). Dua persoalan ini harus dilewati oleh orang yang berjalan menuju Tuhan. Dalam makalah ini penulis akan membahas lebih jauh maqa>m-maqa>m dan ahwa>l dalam tas}a>wuf.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Maqa>m-Maqa>m Dalam Tas}a>wuf
Jalan yang harus ditempuh oleh seorang calon sufi untuk sampai ke tingkat dekat, berada di hadirat Tuhan merupakan proses yang sangat panjang dan penuh rintangan. Karena itu, hanya sedikit orang yang dapat mencapai puncak tujuan tasawuf itu.
Jalan, yang intinya penyucian diri itu, oleh kaum sufi dibagi ke dalam stasion-stasion yang disebut maqa>ma>t. Menurut Ath-Thusi, maqa>ma>t adalah kedudukan seorang hamba dalam perjalannanya menuju Allah melalui ibadah, kesungguhan melawan rintangan (al-Muja>hada>t), dan latihan-latihan rohaniah (ar-riya>dhah).[1]
Adapun jumlah maupun sistematika maqa>ma>t antara ulama’yang satu dengan ulama’ yang lainnya terdapat perbedaan. Perbedaan ini timbul karena adanya perbedaan pengalaman rohaniyah masing-masing ulama’ sufi. Sayyid Hosein Nasr menganalogikan perjalanan seorang sufi dengan mendaki gunung, awal dan akhir diketahui, tetapi jumlah dan perincian sesungguhnya dari tiap langkah yang harus diambil serta ciri-ciri utama jalan yang ditempuh bergantung pada si pendaki. Akan tetapi, tujuan dari perjalanan yang akan ditempuh adalah sama, yaitu Tuhan.[2]
Sistematika maqa>ma>t yang biasa disebut dalam kitab tasawuf adalah :
1.      Tobat
Maqa>ma>t pada umumnya diawali dengan tobat. tobat yang dimaksudkan orang sufi ialah tobat dalam arti yang sebenarnya, yakni tobat yang tidak akan membawa kepada dosa lagi.[3] Menurut orang sufi, yang menyebabkan manusia jauh dari Allah adalah karena dosa, sebab dosa adalah sesuatu yang kotor, sedangkan Allah Maha Suci dan menyukai yang suci. Oleh karena itu apabila seseorang ingin mendekatkan diri kepada-Nya, maka ia harus terlebih dahulu membersihkan dirinya dari segala macam dosa dengan jalan bertobat. Tobat merupakan tingkatan awal yang dijalankan oleh para sufi sebagai jalan menuju Allah. Ada 4 tingkatan dalam tobat, yaitu:
a.       Tobat menyangkut dosa yang dilakukan jasad atau anggota-anggota badan.
b.      Disamping menyangkut dosa yang dilakukan jasad, tobat menyangkut pula pangkal dosa-dosa, seperti dengki, sombong, dan riya’.
c.       Tobat menyangkut usaha menjauhkan bujukan setan dan menyadarkan jiwa akan rasa bersalah.
d.      Tobat berarti penyesalan atas kelengahan pikiran dalam mengingat Allah. Tobat pada tingkatan ini adalah penolakan terhadap  segala sesuatu selain yang dapat memalingkan dari jalan Allah.[4]
2.      Zuhud
Pada maqa>m kedua, seorang sufi meninggalkan dunia kematerian. Kebersihan dari dosa tidak cukup hanya dengan tobat, melainkan juga dengan meninggalkan dunia materi dan kebutuhan jasmani. Setelah bersih dari dosa, seorang zahid mulai melihat Tuhan bukan sebagai Tuhan yang ditakuti siksa-Nya, melainkan sebagai Tuhan tempat pencari ketenteraman jiwa.[5]
Zuhud terbagi dalam 3 tingkatan, yaitu:
a.       Tingkat terendah, menjauhklan dunia agar terhindar dari hukuman di akhirat.
b.      Menjauhi dunia dengan menimbang imbalan di akhirat.
c.       Tingkat tertinggi, mengucilkan dunia bukan karena takut atau berharap, tetapi karena cinta kepada Allah. Orang yang berada pada tingkat tertinggi ini, akan memandang segala sesuatu tidak mempunyai arti apa-apa kecuali Allah.
Zuhud bila diartikan sesuai dengan semangat syari’at Islam dapat diformulasikan sebagai berikut: ”Menghindari perbudakan harta benda, tidak rakus terhadap kemewahan duniawi, menerima nikmat Allah dengan perasaan qana’ah, cenderung dan mengutamakan ganjaran pahala akhirat, memilih hidup sederhana karena percaya bahwa khazanah rizki yang tidak terkira ada di tangan Allah, rajin bekerja dan berderma, sabar, menjauhi syubhat dan tidak meminta-minta.”[6]
3.      Sabar
Sabar menurut bahasa ialah teguh hati tanpa mengeluh ditimpa bencana. Apabila dikaitkan dengan pandangan Islam, maka sabar diartikan tabah menerima ujian-ujian Tuhan dalam bakti dan perjuangan dengan tuhuan memperoleh rida-Nya.[7]  Menurut Al-Ghazali ada dua macam sabar, yaitu:
a.       Kesabaran Jiwa (As}-S}abr an-Nafs), yaitu mengekang tuntutan nafsu dan amarah. Kesabaran jiwa sangat dibutuhkan dalam berbagai aspek. Misalnya, untuk menahan nafsu makan dan seks yang berlebihan.[8]
b.      Kesabaran Badani (As}-S}abr al-Badani), yaitu menahan terhadap penyakit fisik. Sebagai contoh penyakit fisik adalah seperti: sakit, hilangnya penglihatan, cacat anggota tubuh, dan lain-lain.
4.      Syukur
Syukur adalah menyadari bahwa tidak ada yang memberi kenikmatan kecuali Allah.[9] Syukur diperlukan karena semua yang kita lakukan dan miliki di dunia adalah berkat karunia Allah. Allah lah yang telah memberikan nikmat kepada kita, baik berupa pendengaran, penglihatan, kesehatan, keamanan, maupun nikmat-nikmat lainnya yang tidak terhitung jumlahnya.
Syukur itu adalah dengan hati, lisan dan anggota-anggota tubuh lainnya. Syukur dengan hati dalah dengan menyembunyikan kebaikan dari seluruh makhluk dan senantiasa menghadirkannya dalam dhikir kepada Allah SWT., bukan melalaikannya. Syukur dengan lisan adalah menampakkannya dengan puji-pujian yang ditujukan kepada-Nya. Adapun dengan anggota-anggota tubuh yang lain adalah dengan menggunakan kenikmatan-kenikmatan Allah SWT di dalam ketaatan kepada-Nya dan merasa takut untuk menggunakannya dalam kemaksiatan. Sebagai contoh adalah mensyukuri kenikmatan mata dengan menutupi seluruh aib yang dilihat dari kaum muslim.
5.      Tawakal
Tawakkal menurut bahasa artinya mewakilkan atau menyerahkan. Jika dilihat dari segi istilah, tawakkal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti dari suatu keadaan.[10] Tawakkal juga berarti gambaran keteguhan hati dalam menggantungkan diri hanya kepada Allah.[11] Abu Ali Daqaq mengatakan bahwa tawakkal terdiri dari tiga tingkatan yaitu:[12]
a.       Tawakkal, yaitu hati merasa tenteram dengan apa yang telah dijanjikan Allah. Tawakkal ini merupakan maqam bidayah, yakni sifat bagi orang mukmin yang awam.
b.      Taslim, merasa cukup menyerahkan urusan kepada Allah, karena Allah telah mengetahui tentang keadaan dirinya. Sikap seperti ini merupakan maqam mutawasit}, yang menjadi sifat orang khawas.
c.       Tafwit, yaitu orang yang telah rida menerima ketentuan/takdir Allah. Sikap seperti ini adalah sikap orang yang sudah mencapai maqam nihayah yakni orang-orang muwahhidin, seperti Nabi Muhammad SAW.
Menurut Dzun Nun, tawakkal merupakan penyerahan diri sepenuhnya kapada Allah disertai perasaan tidak memiliki kekuatan. Hilangnya daya dan kekuatan seolah-olah mengandung arti pasif bahwa tawakkal adalah kematian jiwa tatkala ia kehilangan peluang, bauk menyangkut urusan dunia dan akhirat. Pernyataan ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh sejumlah sufi bahwa barang siapa yang hendak melaksanakan tawakkal dengan sebenar-benarnya, hendaknya ia menggali kubur di situ, melupakan dunia dan penghuninya. Artinya, tawakkal mencerminkan penyerahan diri manusia kepada Allah.[13]
6.      Rela (Rida)
Yang dimaksud dengan Rida adalah menerima dengan rasa puas terhadap apa yang dianugerahkan Allah SWT.[14] Dalam maqa>m ini, hati seorang hamba begitu tenteram dengan penyerahan diri kepada ketentuan Allah. Orang yang rela mampu melihat hikmah dan kebaikan di balik cobaan yang yang diberikan Allah dan tidak berburuk sangka terhadap ketentuan-Nya. Bahkan, ia mampu melihat keagungan, kebesaran dan kemahasempurnaan Dzat yang yang memberikan cobaan kepadanya sehingga tidak mengeluh dan tidak merasakan sakit atas cobaan tersebut. Hanyalah para ahli ma’rifat dan mahabbah yang mampu bersikap seperti ini. Mereka bahkan merasakan musibah dan ujian sebagai suatu nikmat, lantaran jiwanya bertemu dengan yang dicintainya.[15]
Menurut Abdul Halim Mahmud, rida mendorong manusia untuk berusaha sekuat tenaga mencapai apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Namun, sebelum mencapainya, ia harus menerima dan merelakan akibatnya dengan cara apa pun yang disukai Allah.[16]
7.      Mah}abbah
Pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain:
a.       Mencintai kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan-Nya;
b.       Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi (Tuhan);
c.        Mengosongkan hati dari segala-galanya, kecuali dari diri yang dikasihi.
Ath-Thusi membagi mahabbah menjadi 3 tingkatan,[17] yaitu:
a.       Mah}abbah Biasa, munculnya karena kebaikan Allah kepada seorang hamba. Mahabbah (cinta) ini diperoleh seorang hamba karena ketulusannya dalam merindukan sang kekasih seiring dengan mengingat asma-Nya secara terus-menerus. Sebab siapa yang mencintai sesuatu, ia sering menyebutnya.
b.       Mah}abbah S}adiqi>n, yaitu membersit karena pengenalan yang mendalam atas kebesaran, ilmu, dan kekuasan Allah.
c.        Mah}abbah ’An, yaitu cinta hamba-hamba Allah yang mengenal-Nya dengan baik. Dalam cinta seperti ini, yang dilihat bukan lagi cinta, melainkan diri yang dicintai.
8.      Ma’rifat
Makrifat dalam pengertian sufisme adalah gnosis dari teosufi hellenistik, yaitu pengetauan langsung dari Tuhan berdasarkan ilham atau petunjuk-Nya.[18] Menurut Dzun Nun Al-Mishri, ada tiga macam ma’rifat, yaitu:
a.       Ma’rifat orang awam, yakni mengenali keesaan Tuhan dengan perantaraan ucapan syahadat dan taqlid.
b.       Ma’rifat para mutakallimi>n dan filosof, yakni mengenali keesaan Tuhan dengan melalui logika dan penalaran.
c.        Ma’rifat para awliya>’ dan muqarrabi>n, yakni mengenali keesaan Tuhan dengan perantaraan sanubari atau kalbu.
Menurut Dzun Nun Al-Mishri dan beberapa sufi-sufi yang lain, ma’rifah dalam arti yang pertama dan kedua belum merupakan pengenalan yang hakiki tentang Tuhan. Keduanya disebut ’ilm, bukan ma’rifat. Ma’rifat dalam arti ketigalah yang merupakan pengenalan hakiki tentang Tuhan, dan inilah yang disebut ma’rifat, yakni pengenalan yang tertinggi dan meyakinkan. Ma’rifat ini diperoleh bukan melalui belajar, usaha dan pembuktian, tetapi karena ilham yang dilimpahkan Allah ke dalam hati yang paling rahasia pada hambaNya, sehingga ia mengenali Tuhannya dengan Tuhannya.
Dengan demikian, ma’rifat hanya terdapat pada para awliya>’ dan muqarrabi>n atau para sufi, yang sanggup melihat Tuhan dengan sanubari mereka. Pengenalan seperti ini hanya diberikan Tuhan kepada kaum sufi. Dengan kata lain, ma’rifat dimasukkan Tuhan ke dalam hati seorang sufi, sehingga hatinya penuh dengan cahaya. Ketika Dzun Nun ditanya bagaimana ia memperoleh ma’rifat tentang Tuhan, ia menjawab: ”Aku mengetahui Tuhan dengan Tuhan; dan sekiranya tidak karena Tuhan, aku tidak akan mengenal Tuhan.”[19] Ungkapan Dzun Nun ini menggambarkan bahwa ma’rifah tidak diperoleh sebagai hasil usaha, tetapi adalah pemberian Tuhan. Ma’rifat bukan hasil pemikiran manusia, tetapi tergantung pada kehendak dan rahmat Tuhan. Ma’rifat adalah pemberian dari Tuhan kepada sufi yang siap dan sanggup menerimanya. Ali abd. Al-’Azim mengatakan: ”Kaum sufi sependapat bahwa ma’rifat yang hakiki hanya di dapat melalui hati sanubari yang mendapat ilham (al-basirah al-mulhamah), bukan melalui akal dan juga bukan melalui indera.[20] 

B.      Hal-Hal Yang Dijumpai Dalam Perjalanan Sufi (Ahwal)
Disamping istilah maqam, terdapat pula istilah hal. Istilah hal yang dimaksud di sini adalah keadaan atau kondisi psikologis ketika seorang sufi mencapai maqam tertentu. Maqam dengan hal adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan ibarat dua sisi dalam mata uang. Keterkaitannya dapat dilihat dalam kenyatan bahwa maqam menjadi prasyarat menuju Tuhan, dan dalam maqam akan ditemukan kehadiran hal. Hal yang telah ditemukan dalam maqam akan mengantarkan seseorang untuk mendaki maqam-maqam selanjutnya. Sekedar contoh, seseorang yang tengah berada dalam maqam tobat akan menemukan hal (perasaan) betapa indahnya bertobat dan betapa nikmatnya menyadari dosa-dosa dihadapan Tuhan. Perasaan ini akan menjadi benteng kuat untuk tidak mengerjakan kembali dosa yang pernah dilakukan.
Sebagaimana telah disinggung bahwa hal-hal (ahwal) sering dijumpai dalam perjalanan kaum sufi. Dibawah ini adalah hal-hal yang sering dijumpai dalam perjalanan sufi:
1.      Waspada dan Mawas Diri (Muhasabah dan Muraqabah)
Waspada (muhasabah) dapat diartikan meyakini bahwa Allah mengetahui segala pikiran, perbuatan dan rahasia dalam hati, yang membuat seseorang menjadi hormat, takut dan tunduk kepada Allah.[21] Adapun mawas diri (muraqabah) adalah meneliti dengan cermat apakah perbuatan sehari-hari telah sesuai atau malah menyimpang dari yang dikehendaki-Nya.[22]
Waspada dan mawas diri merupakan dua hal yang saling berkaitan erat. Oleh karena itu, ada sufi yang mengupasnya secara bersamaan. Waspada dan mawas diri merupakan dua sisi dari tugas yang sama dalam menundukkan perasaan jasmani yang berupa kombinasi dari pembawaan nafsu dan amarah.
2.      Cinta (hubb)
Dalam pandangan tasawuf, mahabbah (cinta) merupakan pijakan bagi segenap kemuliaan hal, sama seperti tobat yang merupakan dasar bagi kemuliaan maqam. Karena mahabbah pada dasarnya adalah anugerah yang menjadi dasar pijakan bagi segenap hal. Kaum sufi menyebutnya sebagai anugerah-anugerah (mawa>hib). Mahabbah adalah kecenderungan hati untuk memperhatikan keindahan atau kecantikan.[23]
Kondisi spiritual (hal) hubb bagi seorang hamba adalah melihat dengan kedua matanya terhadap nikmat yang Allah karuniakan kepadanya dan dengan hati nuraninya. Ia melihat kedekatan Allah dengannya, segala perlindungan, penjagaan, dan perhatian yang dilimpahkan kepadanya. Dengan keimanan dan hakikat keyakinannya, ia melihat perlindungan (inayah), petunjuk (hidayah), dan cinta-Nya yang tercurahkan kepadanya, yang seluruhnya sudah ditetapkan sejak zaman azali. Oleh karena itu, ia mencintai Allah azza wa jalla.
3.      Berharap dan Takut (Raja’ dan Khauf)
Bagi kalangan kaum sufi, raja’ dan khauf berjalan seimbang dan saling mempengaruhi. Raja’ berarti berharap atau optimisme, yakni perasaan senang hati karena menanti sesuatu yang diinginkan dan disenangi. Raja’ menuntut tiga perkara, yaitu:[24]
a.       Cinta kapada apa yang diharapkannya.
b.       Takut harapannya itu akan hilang
c.        Berusaha untuk mencapainya
Raja’ yang tidak dibarengi oleh 3 perkara itu hanyalah ilusi atau khayalan. Khauf menurut ahli sufi adalah suatu sikap mental merasa takut kepada Allah karena khawatir kurang sempurna pengabdiannya. Dalam hubungan ini Al-Ghazali membagi khauf membagi menjadi dua macam, yaitu: pertama, khauf karena khawatir kehilangan nikmat. Inilah yang mendorong orang untuk selalu memelihara dan menempatkan nikmat itu pada tempatnya, dan kedua, khauf karena siksaan sebagai akibat perbuatan kemaksiatan. Khauf yang seperti inilah  yang mendorong orang untuk menjauh dari apa yang dilarang dan melaksanakan apa yang diperintah.
4.      Rindu (Syauq)
Selama masih ada cinta, syauq tetap diperlukan.[25] Dalam lubuk jiwa, rasa rindu hidup dengan subur, yakni rasa rindu ingin segera bertemu dengan Tuhan. Ada orang yang mengatakan bahwa maut merupakan bukti cinta yang benar. Lupa kepada Allah lebih berbahaya dari pada maut. Bagi sufi yang rindu kepada Tuhan, mati dapat berarti bertemu dengan Tuhan, sedangkan hidup merintangi pertemuan ’abid dengan ma’budnya.
5.      Intim (Uns)
Menurut pandangan kaum sufi, uns adalah sifat merasa selalu berteman, tak pernah merasa sepi. Ungkapan berikut ini melukiskan sifat uns, ”Ada orang yang merasa sepi dalam keramaian. Ia adalah orang yang selalu memikirkan kekasihnya sebab sedang dimabuk cinta, seperti halnya sepasang pemuda-pemudi. Ada pula orang yang merasa bising dalam kesepian. Ia adalah orang yang selalu memikirkan atau merencanakan tugas pekerjaannya semata-mata. Adapun engkau, selalu merasa berteman di manapun berada. Alangkah mulianya engkau berteman dengan Allah, srtinya engkau selalu berada dalam pemeliharaan Allah.”[26]
Ungkapan di atas melukiskan keakraban atau keintiman seorang sufi dengan Tuhannya. Sikap keintiman tersebut banyak dialami oleh kaum sufi.
6.      T{uma’ninah
T{uma’ninah adalah merasa tenteram setelah bersama dengan Tuhannya, kemudian merasakan ketergantungan terus-menerus dengan-Nya.[27]
7.      Musya>hadah
Musya>hadah adalah kehadiran yang berarti kedekatan yang dibarengi ilmu yakin dan hakikat-hakikatnya.
8.      Yaqin (Keyakinan Sejati)
Yaqin ialah mantapnya pengetahuan sehingga tidak berpaling dan tidak berubah. Keyakinan sejati ini tidak lain adalah mukasyafah (tersingkapnya apa yang ghaib). Mukasyafah dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a.       Mukasyafah ayan (tersingkapnya tutup mata) sehingga di hari  kiamat nanti, ia melihat dengan mata kepala.
b.       Mukasyafatul qulub (tersingkapnya tutup hati) untuk memahami hakikat-hakikat keimanan secara langsung dengan yakin yang tidak bisa dibayangkan cara memperolehnya dan tidak bisa ditentukan.
c.        Mukasyafatul ayat (tersingkapnya tanda-tanda kebesaran-Nya) dengan ditampakkannya kekuasaan Allah kepada para nabi dengan mukjizat dan untuk selain para Nabi, dengan karamah (kemuliaan) dan dikabulnya do’a.
Keyakinan sejati merupakan kondisi spiritual yang tinggi. Para pelakunya dibedakan menjadi tiga kondisi:
a.       Kelas pemula, yakni para murid dan orang awam
b.       Kelas menengah, yakni orang-orang khusus yang keyakinannya kontinuitas sepanjang waktu dalam menghadapi rintangan.
c.        Kelompok para pakar (para elit sufi). Mereka adalah kelompok yang paling khusus. Sifat-sifatnya sebagaimana yang dikatakan Amr bin Utsman Al-Makki, ”keyakinan sejati secara global adalah menetapkan keyakinan kepada Allah dengan segala sifatnya.”[28]

C.      METODE IRFANI
Untuk memperoleh kearifan dan makrifat, hati (qalb) mempunyai fungsi esensial. Qalb merupakan tempat pengetahuan tentang tentang hakikat-hakikat, termasuk di dalamnya hakikat ma’rifat. Qalb yang dapat memperoleh ma’rifat adalah hati yang telah tersucikan dari berbagai noda atau akhlak buruk yang sering dilakukan manusia. Karena qalb merupakan bagian dari jiwa, kesucian jiwa sangat mempengaruhi kecemerlangan qalb dalam menerima ilmu. Makrifat tidak dimiliki sembarang orang, melainkan hanya dimiliki orang-orang yang telah melakukan upaya-upaya untuk memperolehnya. Untuk itu disamping melalui tahapan-tahapan maqa>mat dan ah}wa>l, untuk memperoleh ma’rifat, seseorang harus melakukan upaya-upaya tertentu, yaitu:
1.       Riya>d}ah
Riya>d}ah adalah latihan kejiwaan melalui upaya membiasakan diri agar tidak melakukan hal-hal yang mengotori jiwanya. Riya>d}ah harus disertai dengan mujahadah, yaitu kesungguhan dalam usaha untuk meninggalkan sifat-sifat buruk. Riya>d}ah perlu dilakukan untuk memperoleh ilmu ma’rifat yang dapat diperoleh melalui upaya melakukan perbuatan kesalehan atau kebaikan yang terus-menerus. Hal terpenting dalam riya>d}ah adalah melatih jiwa melepaskan ketergantungan terhadap kelezatan duniawi yang fatamorgana, lalu menghubungkan diri dengan realitas rohani dan ilahi.
2.       Tafakur
Tafakur penting dilakukan untuk menuju ma’rifat, karena ketika jiwa belajar dan mengolah ilmu, lalu memikirkan (bertafakur) dan menganalisisnya, pintu kegaiban akan dibukakan untuknya. Tafakur dilakukan dengan memotensikan nafs kulli (jiwa universal).[29] Validitas yang diperoleh melalui metode tafakur sangat tinggi kualitasnya sebab memotensikan nafs kulli, seperti yang di ungkapkan al-Ghazali, ”Nafs Kulli (jiwa universal) lebih besar dan lebih kuat hasilnya dan lebih besar kemampuan perolehannya dalam proses pembelajaran.” nafs kulli mempunyai fungsi yang sangat penting untuk menghasilkan ilmu, terutama ilmu ma’rifat. Alasannya, ilmu yang dihasilkan melalui penggunaan nafs kulli lebih bersifat universal, tidak parsial. Untuk memfungsikan nafs kulli, kegiatan tafakur mempunyai peranan yang sangat penting.
3.       Tazkiyat An-Nafs
Tazkiyat An-Nafs adalah proses penyucian jiwa manusia. Para sufi adalah orang yang senantiasa menyucikan hati dan jiwanya. Perwujudannya adalah rasa butuh terhadap Tuhannya. Ada lima hal yang menjadi penghalang jiwa dalam menangkap hakikat yaitu: jiwa yang belum sempurna, jiwa yang dikotori perbuatan maksiat, manuruti keinginan badan, penutup yang menghalangi masuknya hakikat dalam jiwa (taqlid), dan tidak dapat berpikir logis. Tazkiyat an-nafs dalam konsepsi tasawuf berdasar asumsi bahwa jiwa manusia ibarat cermin, sedangkan ilmu ibarat gambar-gambar objek materil. Kegiatan mengetahui ibarat cermin yang menangkap gambar-gambar. Banyaknya gambar yang tertangkap dan jelasnya tangkapan bergantung pada kadar kebersian cermin yang bersangkutan.
4.       Dhikrullah
Dhikrullah adalah membasahi lidah dengan ucapan-ucapan pujian kepada Allah. Pentingnya dhikir untuk mendapatkan ilmu ma’rifat didasarkan atas argumentasi tentang peranan dhikir itu sendiri bagi hati. Dalam Al-Munqid}, Al-Ghazali menjelaskan bahwa dhikir kepada Allah merupakan hiasan bagi kaum sufi. Syarat utama bagi orang yang menempuh jalan Allah adalah membersihkan hati secara menyeluruh dari selain Allah, sedangkan kuncinya adalah menenggelamkan hati secara keseluruhan dengan dhikir kepada Allah.[30] Dhikir juga berfungsi untuk mendatangkan ilham, menghalangi ruang gerak setan sehingga setan pergi menjauh dari hati manusia. Di saat itulah, malaikat memberikan ilham kepada hati.

BAB III
KESIMPULAN

                Maqa>ma>t adalah kedudukan seorang hamba dalam perjalannanya menuju Allah melalui ibadah, kesungguhan melawan rintangan (al-Muja>hada>t), dan latihan-latihan rohaniah (ar-riya>dhah). Sedangkan h}al adalah keadaan atau kondisi psikologis ketika seorang sufi mencapai maqam tertentu. Maqam dengan hal adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan ibarat dua sisi dalam mata uang. Keterkaitannya dapat dilihat dalam kenyatan bahwa maqam menjadi prasyarat menuju Tuhan, dan dalam maqam akan ditemukan kehadiran hal. Hal yang telah ditemukan dalam maqam akan mengantarkan seseorang untuk mendaki maqam-maqam selanjutnya. Adapun jumlah maupun sistematika maqa>ma>t antara ulama’yang satu dengan ulama’ yang lainnya terdapat perbedaan. Perbedaan ini timbul karena adanya perbedaan pengalaman rohaniyah masing-masing ulama’ sufi.
                Untuk memperoleh kearifan dan makrifat, hati (qalb) mempunyai fungsi esensial.. kesucian qalb sebagai prasyarat berdialog secara batini dengan Tuhan. Untuk itu, disamping melalui tahapan-tahapan maqa>ma>t dan h}al, untuk memperoleh ma’rifat harus melalui upaya-upaya tertentu, yaitu,: riya>d}ah, tafakur, tazkiya>t an-nafs, dan dhikrullah.


DAFTAR PUSTAKA

Al-’Azim, Ali Abd. Falsafah al-Ma’rifah fi al-Qur’an al-Karim. Cairo: Al-Hai’ah al-’Ammah li al-Syu’un wa al-Matabi’ al-Amiriyah, 1973.
Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Ihya> ‘Ulu>m al-Di>n Jilid IV. Kairo: Dar Tsaqafah Islamiyah, 1961.
_______. Muh}tas}ar Ihya> ‘Ulu>m al-Di>n , Terj. Irwan Kurniawan. Bandung: Mizan, 1997.
_______. Risalah Al-Laduniyah Dalam Qushur Al-‘Awali Jilid I. Mesir: Maktabah Al-Jundi, 1970.
_______. Al-Munqidh Min Ad}-D{halal .  Kairo: Silsilah Ath-Thaqafah Al-Islamiyah, 1961.
Anwar, Rosihon. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia, 2009.
Ath-Thusi, Abu Nashr As-Siraj. Al-Luma’ . Kairo: Dar Kitab al-H{adithah, 1960.
Ath-Thusi, Abi Nashr As-Siraj. Al-Luma’. Ditahqiq oleh Abdul Halim Mahmud dan Thaha Abd. Baqi Surur. Mesir: Dar al-Kutub al-Hadithah, 1960.
A. S. Asmaran. Pengantar Studi Tasawuf.  Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996.
Faridh, Ahmad. Tazkiyat an-Nufus, Terj. Nabhani Idris. Bandung: Pustaka, 1989.
Nasr, Sayyid Hosein. Tasawuf Dulu dan Sekarang. Terj. Abdul Hadi W. M. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985.
Nasution, Harun. Falsafah dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
Nata, Abudin. Akhlak Tasawuf. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996.
Suhrawardi, Syihabuddin Umar. Awa>rif al-Ma’a>rif, Terj. Ilma Nugrahani Isma’il. Bandung: Pustaka Hidayah, 1998.
Umarie, Barmawie. Systematika Tasawuf.  Sala: Siti Syamsiyah, 1996.
Ya’qub, Hamzah. Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin. Jakarta: Atisa, 1992.



[1] Abu Nashr As-Siraj AthThusi, Al-Luma’ (Kairo: Dar Kitab al-H{adithah, 1960), 65
[2] Sayyid Hosein Nasr, Tasawuf Dulu dan Sekarang. Terj. Abdul Hadi W. M (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985), 8
[3] Asmaran AS.,Pengantar Studi Tasawuf (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), 107
[4] Al-Ghazali, Ihya> ‘Ulu>m al-Di>n Jilid IV(Kairo: Dar Tsaqafah Islamiyah, 1961), 10-11
[5] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), 56
[6] Hamzah Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin (Jakarta: Atisa, 1992), 288
[7] Ibid., 204
[8] Al-Ghazali, Ihya> ‘Ulu>m al-Di>n,.............. 58-59
[9] Al-Ghazali, Muh}tas}ar Ihya> ‘Ulu>m al-Di>n , Terj. Irwan Kurniawan (Bandung: Mizan, 1997), 317
[10] Asmaran AS.,Pengantar Studi Tasawuf............., 120
[11] Al-Ghazali, Ihya> ‘Ulu>m al-Di>n,.............., 322
[12] Asmaran AS.,Pengantar Studi Tasawuf............., 122
[13] Al-Ghazali, Ihya> ‘Ulu>m al-Di>n,..............,75
[14] Barmawie Umarie, Systematika Tasawuf (Sala: Siti Syamsiyah, 1996), 81
[15] Ahmad Faridh, Tazkiyat an-Nufus, Terj. Nabhani Idris (Bandung: Pustaka, 1989), 166
[16] Abi Nashr As-Siraj Ath-Thusi. Al-Luma’. Ditahqiq oleh Abdul Halim Mahmud dan Thaha Abd. Baqi Surur (Mesir: Dar al-Kutub al-Hadithah, 1960), 278
[17] Ibid., 86
[18] Asmaran A. S., Pengantar Studi Tasawuf...................., 135
[19] Ibid., 134
[20] Ali Abd. Al-’Azim, Falsafah al-Ma’rifah fi al-Qur’an al-Karim (Cairo: Al-Hai’ah al-’Ammah li al-Syu’un wa al-Matabi’ al-Amiriyah, 1973), 287
[21] Al-Ghazali, Ihya> ‘Ulu>m al-Di>n,.............. 340
[22] Ibid., 346
[23] Syihabuddin Umar Suhrawardi, Awa>rif al-Ma’a>rif, Terj. Ilma Nugrahani Isma’il (Bandung: Pustaka Hidayah, 1998), 185
[24] Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf (Bandung: Pustaka Setia, 2009), 87
[25] Ahmad Faridh, Tazkiyat an-Nufus........., 191
[26] Barmawie Umarie, Systematika Tasawuf.........., 57
[27] Abudin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), 94
[28] Abu Nashr As-Sarraj AthThusi, Al-Luma’………, 146
[29] Al-Ghazali, Risalah Al-Laduniyah Dalam Qushur Al-‘Awali Jilid I (Mesir: Maktabah Al-Jundi, 1970), 122
[30] Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, Al-Munqid} Min Ad}-D{halal (Kairo: Silsilah Ath-Thaqafah Al-Islamiyah, 1961), 54

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar